Dalam kisah Ananias dan Safira, kesalahan mereka bukanlah karena tidak memberikan seluruh hasil penjualan tanah. Petrus jelas berkata, "Selama tanah itu tidak dijual, bukankan itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu?" Artinya, mereka tidak wajib memberikan semuanya, dan Tuhan sendiri tidak menuntut jumlah tertentu dari mereka. Betapa tidak perlunya dosa mereka, karena pada dasarnya mereka bebas atas uang itu, kecuali sebagai cara untuk meninggikan citra rohani mereka. Jadi masalahnya bukanlah angka, masalahnya adalah pencitraan atau kepura-puraan.
Perlu diketahui bahwa sebelum pencitraan mereka terungkap, Ananias dan Safira telah melihat kemurahan hati Barnabas dan betapa dihormatinya dia (Kis. 4:36-37). Maka Ananias dan Safira juga menjual sebidang tanah, dan menyerahkan hasil penjualannya kepada rasul-rasul seolah mereka dengan penuh pengorbanan memberikan seluruhnya. Kenyataannya, mereka menahan sebagian dari hasil penjualan itu. Kata "menahan" disini dalam bahasa aslinya memiliki makna yang jauh lebih berat, yaitu mencuri, menggelapkan, dan mengambil diam-diam untuk kepentingan pribadi. Atas apa yang mereka lakukan, mereka harus kehilangan nyawa. Kita mungkin berpikir ini adalah hukuman yang sangat berat untuk dosa yang tampaknya "umum" terjadi di sekitar kita saat ini. Secara konteks zaman, apa yang dilakukan Ananias dan Safira merupakan titik kritis bagi gereja mula-mula yang saat itu bertumbuh pesat, dimana Tuhan sedang membangun fondasi gereja-Nya. Mereka hidup dalam solidaritas, ketulusan, dan pengorbanan. Sehingga kenajisan, dosa, atau skandal semacam itu dapat merusak seluruh gereja hingga ke akarnya. Tapi bukan berarti hari ini Tuhan lebih toleran terhadap kemunafikan rohani. Pelajaran dari Ananias dan Safira ini adalah pengingat bagi kita yang selalu berasumsi bahwa selalu ada waktu untuk berdamai dengan Tuhan, waktu untuk jujur dan bertobat kepada-Nya. Waktu apa pun yang diberikan Tuhan adalah anugerah yang tidak layak kita terima; kita tidak boleh berasumsi bahwa waktu itu akan selalu ada. Karena itu, hati-hati saat kita tergoda merekayasa citra rohani tanpa kehidupan rohani yang nyata. Jangan pernah memikirkan cara untuk mendapatkan hormat dan pujian dari manusia jika Anda belum benar-benar menyerahkan hati Anda sepenuhnya kepada Tuhan. Sebab orang yang memiliki kehidupan rohani sejati justru tidak sibuk mencari hormat dari manusia. [LS]