Jemaat Korintus biasa berkumpul untuk makan bersama dalam perjamuan kasih. Dalam persekutuan itu, mereka juga merayakan Perjamuan Tuhan sebagai peringatan akan tubuh dan darah Kristus. Namun, Paulus melihat sesuatu yang sangat bertentangan dengan makna persekutuan tersebut. Ada orang yang makan lebih dahulu dan menghabiskan makanan yang tersedia, sementara yang lain tidak mendapat apa-apa. Bahkan, ada yang makan dan minum berlebihan sampai mabuk. Pertemuan yang seharusnya menunjukkan kasih dan kesatuan sebagai tubuh Kristus justru memperlihatkan keegoisan dan perpecahan. Karena itu Paulus menegur mereka dengan keras: "Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu menghina Jemaat Allah dan mempermalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa?" (1 Kor. 11:22).
Selain memberi peringatan penting tentang penyelenggaraan Perjamuan Tuhan yang benar (1 Kor. 11:23-26); tentang bagaimana mempersiapkan hati serta perilaku kita dalam menerima Perjamuan Tuhan (1 Kor. 11:27-28); dan tentang konsekuensi dari mengikuti Perjamuan Tuhan dengan sikap yang tidak hormat (1 Kor. 11:29-32); Rasul Paulus juga memberikan arahan yang sangat sederhana dan praktis kepada mereka ketika berkumpul untuk makan, yaitu "Jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain" (ay. 33). Artinya, jangan hanya memikirkan bagian kita, tetapi pikirkan juga apakah orang lain sudah mendapatkan bagian. Bahkan Paulus berkata, "Kalau ada orang yang lapar, baiklah ia makan dahulu di rumahnya" (ay. 34). Masalahnya bukan kita tidak boleh makan ketika lapar, tetapi jangan sampai kebutuhan dan keinginan pribadi membuat kita mengabaikan saudara seiman. Menurut Paulus, makan bersama bukan kesempatan untuk memuaskan diri sendiri, melainkan kesempatan untuk menunjukkan kasih kepada tubuh Kristus. Hal sederhana seperti menunggu orang lain, berbagi makanan, atau memastikan orang lain sudah mendapatkan bagian mungkin terlihat sepele. Tetapi justru melalui hal-hal sederhana seperti inilah kasih kepada sesama terlihat nyata. Ketika kita duduk di meja bersama, jangan hanya mementingkan perut kita, tetapi tanyakan juga, "Apakah orang lain sudah mendapatkan bagian?" Sebab dalam tubuh Kristus, kita tidak datang hanya untuk menerima bagi diri sendiri. Kita datang untuk menikmati berkat Tuhan bersama-sama dan memastikan orang lain juga mengalaminya. Itulah sikap yang seharusnya terlihat bukan hanya di meja makan, tetapi dalam seluruh kehidupan kita sebagai tubuh Kristus. [LS]