Suatu pagi, Jesse datang ke kelas lebih awal dari biasanya. Saat masuk ke ruangan, ia melihat kursi-kursi masih berantakan dan beberapa perlengkapan kegiatan belum tertata rapi. Walaupun tidak ada satu pun orang yang memintanya, Jesse berinisiatif membantu merapikan kursi dan menyiapkan kelas dengan penuh semangat. Kakak-kakak pengajar merasa sangat senang dan terbantu olehnya. Jesse pun merasa bahagia karena ia bisa melakukan sesuatu yang baik dengan sukarela. Ternyata, melakukan kebaikan dengan hati yang rela membawa sukacita yang jauh lebih besar bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dalam Filemon 1:8-14, Rasul Paulus sebenarnya memiliki kewenangan untuk memerintahkan Filemon melakukan apa yang benar. Namun, Paulus memilih untuk meminta dengan penuh kasih, karena ia ingin Filemon melakukan kebaikan tersebut dengan sukarela, bukan karena terpaksa. Dari sini kita belajar bahwa Tuhan sangat senang ketika kita melakukan hal yang benar dengan hati yang rela dan gembira. Saat kita membantu orang tua di rumah, berbagi mainan dengan teman, atau merapikan tempat tidur tanpa perlu diingatkan, Tuhan ingin kita melakukannya karena kita mengasihi-Nya, bukan sekadar karena takut disuruh. Mari kita belajar memiliki hati yang selalu mau melakukan kebaikan dengan penuh sukacita. Jangan lagi menunggu sampai disuruh atau dipaksa untuk membantu orang lain. Ketika ada kesempatan untuk berbuat baik di depan mata, lakukanlah dengan hati yang tulus. Dengan cara ini, kita dapat menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita dan yang paling utama, kita sedang menyenangkan hati Tuhan melalui setiap kebaikan kecil yang kita lakukan. [VW]