Ada kisah tentang seekor burung kenari yang memiliki suara yang sangat merdu. Pemilik burung ini sangat menyayanginya dan selalu membawanya ke mana pun ia pergi. Bahkan, ketika sang pemilik harus pindah ke sebuah tempat yang gersang dan sulit menemukan air, burung kenari itu tetap setia bernyanyi dengan merdu. Nyanyiannya tidak hanya menghibur sang pemilik, tetapi juga memberikan sukacita bagi penduduk di sekitar tempat yang gersang tersebut. Burung kenari itu tetap bernyanyi bukan karena keadaannya mudah, melainkan karena ia merasa senang dan aman selama berada di dekat pemiliknya.
Sama seperti burung kenari yang setia, dalam kitab Kejadian 12:6-9, kita melihat perjalanan iman Abram. Tuhan memanggil Abram untuk meninggalkan zona nyamannya menuju tanah Kanaan yang masih asing baginya. Meskipun tanah itu belum sepenuhnya menjadi miliknya karena masih diduduki oleh orang lain, Abram tetap percaya sepenuhnya kepada janji Allah. Sebagai bentuk rasa syukur dan imannya, Abram mendirikan mezbah bagi Tuhan di setiap tempat yang ia singgahi. Mezbah pada masa itu adalah simbol penting untuk menyembah dan meninggikan nama Tuhan. Abram menunjukkan bahwa di mana pun ia berada, ia tidak pernah lupa membangun hubungan yang intim dengan Allah. Di masa kini, kita tidak perlu lagi membangun mezbah dari tumpukan batu seperti yang dilakukan Abram, sebab Tuhan ingin hati kita menjadi mezbah yang hidup bagi-Nya. Artinya, kita membawa iman di dalam hati dengan cara membangun kebiasaan berdoa dan bersyukur setiap saat, baik dalam keadaan senang maupun sedih, dan dalam situasi mudah maupun sulit. Ketika kita menjadikan doa sebagai gaya hidup, itu adalah bukti nyata bahwa kita percaya Tuhan senantiasa menyertai dan menolong kita. Mari jadikan hati kita sebagai mezbah yang selalu memuliakan Tuhan, sehingga damai sejahtera-Nya melingkupi hidup kita setiap hari, sesuai dengan janji-Nya dalam Kisah Para Rasul 1:8 bahwa kuasa Tuhan menyertai kita ke mana pun kita pergi. [HJ]