Suatu hari, Beni dan Rio sedang asyik bermain menyusun balok bersama. Tanpa sengaja, Rio menyenggol menara balok yang sudah disusun Beni hingga roboh berantakan. Beni seketika menjadi marah dan berteriak, "Aduh! Kamu ceroboh sekali! Aku sudah susah payah membuatnya!" Meskipun Rio segera meminta maaf karena kejadian itu benar-benar tidak sengaja, Beni tetap menyimpan kekesalan di hatinya. Saat jam istirahat, Beni memilih untuk menjauh dan menolak ajakan bermain Rio dengan ketus, "Aku tidak mau berteman lagi sama kamu!" Sepanjang hari itu, bukannya merasa lebih baik setelah menjauh, Beni justru merasa tidak tenang. Hatinya terasa berat dan dipenuhi rasa kesal yang terus mengganggu pikirannya.
Kisah Beni dan Rio ini mengajarkan kita tentang pesan dalam 1 Yohanes 2:7-11, yaitu pentingnya hidup dalam kasih. Rasul Yohanes mengingatkan bahwa siapa yang mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang Tuhan, namun barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan. Ketika kita menyimpan rasa benci atau dendam, hati kita kehilangan kedamaian, seolah-olah kita sedang berjalan dalam kegelapan yang membuat kita tersandung. Sebaliknya, ketika kita memilih untuk mengampuni dan hidup ramah, kita sedang mempraktikkan kasih Kristus dalam keseharian kita. Mengampuni mungkin terasa sulit di awal, tetapi itu adalah kunci agar kita tetap hidup di dalam terang Tuhan, sehingga hati kita menjadi ringan dan penuh dengan damai sejahtera. [JH]