Dalam kehidupan ini, kita pasti pernah merasakan betapa sakitnya hati ketika diperlakukan tidak adil, diejek, atau dijauhi oleh orang lain. Perasaan ingin membalas kejahatan dengan kejahatan sering kali muncul secara alami ketika kita merasa tersakiti. Yusuf pun pernah berada dalam posisi yang jauh lebih sulit; ia dikhianati oleh kakak-kakaknya sendiri, dijual sebagai budak, difitnah, hingga harus mendekam di penjara. Namun, di tengah semua penderitaan itu, Tuhan tidak pernah meninggalkan Yusuf dan justru mengangkatnya menjadi pemimpin besar di Mesir. Ketika akhirnya ia memiliki kuasa untuk membalas dendam kepada saudara-saudaranya yang datang meminta pertolongan, Yusuf justru memilih jalan yang berbeda.
Dalam Kejadian 50:15-19, Yusuf menunjukkan keputusan luar biasa dengan mengampuni kakak-kakaknya. Ia sadar sepenuhnya bahwa Tuhan berkuasa mengubah setiap peristiwa buruk menjadi sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi hidupnya. Yusuf tidak membiarkan rasa sakit hati atau dendam menguasai hatinya, melainkan memilih untuk tetap menunjukkan kasih. Sama seperti Yusuf, Tuhan memanggil kita untuk melepaskan segala rasa sakit hati dan memilih untuk mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita. Mari kita belajar untuk membuang segala rasa kesal dan dendam dari hati kita hari ini. Saat kita memutuskan untuk mengampuni dan tetap berbuat baik, hati kita akan dipenuhi dengan kedamaian, dan hidup kita akan menjadi cerminan kasih Tuhan yang nyata bagi orang-orang di sekitar kita. {VW & EH]