Dalam perjalanan hidup, kita pasti pernah melakukan kesalahan kepada orang lain dan merasa cemas akan konsekuensinya. Begitu pula yang dirasakan oleh kakak-kakak Yusuf; setelah ayah mereka, Yakub, meninggal dunia, ketakutan mereka memuncak karena merasa tidak ada lagi orang yang bisa menengahi mereka dengan Yusuf. Mereka sangat cemas karena menyadari bahwa dulu mereka telah berbuat sangat jahat—mulai dari membenci, iri hati, hingga menjual Yusuf sebagai budak. Mereka khawatir Yusuf akan memanfaatkan kekuasaan besarnya di Mesir untuk membalas dendam atas penderitaan masa lalu mereka. Namun, di tengah ketakutan tersebut, Yusuf justru menunjukkan karakter yang luar biasa. Tahukah kamu bahwa sebuah perkataan bisa menjadi "obat" bagi hati yang sedang gundah? Sama seperti Yusuf yang memilih untuk menghibur dan menguatkan hati saudara-saudaranya, kita pun dipanggil untuk menjadi pembawa damai dalam keseharian kita. Mengampuni bukan hanya sekadar tindakan memaafkan, tetapi juga tentang bagaimana kita merangkul orang lain melalui perkataan yang manis dan menyejukkan.
Dalam Kejadian 50:20-21, kita melihat bahwa pengampunan yang tulus selalu disertai dengan kasih nyata. Sering kali kita merasa sulit untuk memaafkan, apalagi harus memberikan kata-kata penghiburan kepada orang yang pernah menyakiti kita. Namun, firman Tuhan mengajarkan bahwa ketika kita memandang situasi hidup kita melalui kacamata imanbahwa Tuhan sanggup membalikkan segala yang buruk menjadi kebaikan, maka hati kita akan dimampukan untuk melepaskan dendam. Perkataan yang manis bukan berarti berpura-pura, melainkan wujud ketaatan kita untuk menunjukkan bahwa kita adalah milik Tuhan yang penuh kasih. [JH & EH]