Pernahkah kamu menerima hadiah yang sangat kamu dambakan? Pada hari pertama, kamu pasti merasa sangat gembira. Hadiah tersebut kamu bawa ke mana-mana, dirawat dengan hati-hati, bahkan sebelum tidur pun kamu masih ingin melihatnya karena rasa sayang yang begitu besar. Namun, setelah beberapa minggu, mainan itu mulai jarang tersentuh. Bukan karena rusak atau hilang, tetapi karena rasa antusias dan kesenangan kita sudah mulai memudar seiring berjalannya waktu.
Kondisi yang sama pernah terjadi pada jemaat di Efesus seperti yang tercatat dalam Wahyu 2:1-5. Mereka sebenarnya adalah kelompok yang luar biasa; mereka sangat rajin berbuat baik, tekun melayani, dan setia melakukan banyak hal yang benar. Namun, ada satu hal penting yang membuat Tuhan Yesus merasa sedih, yaitu mereka telah kehilangan kasih yang mula-mula kepada-Nya. Mereka masih melakukan banyak aktivitas rohani, tetapi hati mereka tidak lagi mengasihi Yesus dengan semangat dan ketulusan yang sama seperti saat pertama kali mereka mengenal-Nya. Sering kali, tanpa sadar kita pun bisa terjebak dalam situasi yang sama. Pergi ke Sekolah Minggu, berdoa sebelum makan, atau menghafal ayat Alkitab terkadang hanya kita lakukan karena itu sudah menjadi rutinitas atau kebiasaan belaka. Meskipun tindakan-tindakan tersebut baik, Tuhan jauh lebih menghargai jika kita melakukannya karena kita sungguh-sungguh mengasihi-Nya. Saat hati kita dipenuhi dengan cinta kepada Yesus, setiap doa yang terucap, pujian yang dinyanyikan, dan kebaikan yang kita bagikan akan menjadi persembahan yang sangat indah dan berharga bagi Tuhan.[CF]