Suatu hari, Daniel sudah belajar dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi ulangan. Ia merasa yakin akan mendapat nilai yang memuaskan, tetapi ketika lembar jawaban dibagikan, nilainya jauh di bawah harapan. Daniel merasa sangat kecewa dan mulai bertanya-tanya mengapa hal itu harus terjadi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun mungkin pernah mengalami peristiwa yang tidak sesuai dengan harapan, seperti mengalami kekalahan dalam perlombaan, berselisih paham dengan teman, melihat orang tua bertengkar, atau kehilangan barang yang paling kita sukai. Saat menghadapi situasi yang berat, kita mudah merasa sedih dan mempertanyakan penyertaan Tuhan. Namun, keadaan sulit yang kita alami bukan berarti Tuhan telah meninggalkan kita.
Dalam Ayub 1:1-22, Alkitab mencatat kisah Ayub, seorang yang hidup saleh, jujur, takut akan Tuhan, dan menjauhi kejahatan. Ia memiliki keluarga yang berbahagia serta harta kekayaan yang sangat berlimpah. Namun dalam waktu singkat, Ayub mengalami penderitaan yang hebat karena kehilangan seluruh harta benda dan anak-anak yang dikasihinya. Meski merasa sangat berduka, Ayub tidak menjadi marah, berhenti percaya, atau menyalahkan Tuhan. Sebaliknya, ia sujud menyembah dan berkata bahwa Tuhan yang memberi dan Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan. Ayub mengajarkan bahwa kesetiaan kita kepada Tuhan harus tetap dijaga baik dalam keadaan senang maupun susah, sebagaimana diingatkan dalam Amsal 4:23 agar kita senantiasa menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Saat menghadapi masa sulit, kita boleh merasa sedih dan menangis karena Tuhan memahami perasaan kita. Akan tetapi, jagalah hati kita agar tidak menyalahkan Tuhan, melainkan tetap jujur, setia, dan yakin bahwa Tuhan senantiasa menyertai serta memiliki rancangan yang baik bagi hidup kita. [VW]