Rafa dan kakaknya sering sekali berbeda pendapat. Rafa suka bermain bersama teman-teman setelah pulang sekolah, sedangkan kakaknya lebih memilih berada di rumah untuk belajar. Karena perbedaan ini, mereka sering bertengkar dan saling menyalahkan. Rafa merasa kakaknya sama sekali tidak mengerti dirinya. Suatu hari, saat merasa sangat kesal dan ingin membalas perkataan kakaknya, Rafa teringat bahwa ia harus membawa pergumulannya kepada Tuhan. Rafa memutuskan untuk berdoa terlebih dahulu. Setelah berdoa, masalahnya memang tidak langsung selesai, tetapi hati Rafa menjadi jauh lebih tenang. Ia pun memilih untuk berbicara lembut kepada kakaknya tanpa meluapkan kemarahan.
Sama seperti Yakub dan Esau dalam Kejadian 25:19–28, setiap anggota keluarga memiliki karakter, kebiasaan, dan sifat yang berbeda. Perbedaan ini terkadang memicu pertengkaran atau rasa sedih saat kita merasa tidak dipahami. Namun, Tuhan tidak meminta kita untuk menjadi sama persis dengan saudara kita. Tuhan ingin kita membawa setiap pergumulan dan perbedaan di dalam keluarga kepada-Nya melalui doa. Saat kita berdoa, Roh Kudus akan menolong kita menghasilkan buah-buah Roh, seperti kesabaran, kebaikan, dan penguasaan diri. Doa mungkin tidak langsung mengubah keadaan secara instan, tetapi doa membuktikan bahwa kita percaya Tuhan peduli, mendengar, dan mampu menolong keluarga kita untuk saling mengasihi. [DP]