Ratna sangat hobi menonton film hingga sering lupa waktu dan tidur larut malam. Suatu malam, Papa dan Mama mengajak Ratna untuk renungan keluarga bersama. Karena masih ingin menonton, Ratna berpura-pura pusing dan berbohong agar diizinkan tidur lebih awal. Orang tuanya yang tidak curiga langsung mengizinkannya istirahat. Namun, begitu Papa dan Mama pergi, Ratna malah melanjutkan menonton filmnya sampai larut malam. Ratna tidak sadar bahwa ia telah mengorbankan waktu yang sangat berharga bersama Tuhan dan keluarga demi menikmati kesenangan yang hanya bersifat sementara.
Pergumulan Ratna adalah cerminan dari peristiwa tragis yang dialami Esau ribuan tahun lalu dalam Kejadian 25:29–34. Esau pulang dari padang dalam kondisi lelah dan lapar luar biasa. Ketika melihat Yakub memasak sup kacang merah yang harum, rasa laparnya menguasai seluruh pikirannya. Pada zaman Alkitab, "hak kesulungan" bukan sekadar status kakak tertua, melainkan warisan kepemimpinan rohani dan janji berkat khusus dari Tuhan yang berlaku seumur hidup. Namun, karena tidak bisa menguasai diri, Esau menganggap remeh hak kesulungan itu dan menukarnya hanya untuk semangkuk makanan yang habis dalam beberapa suapan. Esau jatuh pada jebakan mengorbankan hal yang paling berharga hanya demi memuaskan keinginan sesaat. Iblis sering kali menguji kita bukan dengan hal yang terlihat jahat, melainkan dengan godaan seperti game, media sosial, tontonan, atau rasa malas yang membuat kita menunda dan melupakan Tuhan. Keinginan daging kita selalu berbisik bahwa kesenangan duniawi itu lebih memuaskan. Padahal, kesenangan dunia hanya bertahan sebentar, sedangkan hubungan yang erat dengan Tuhan memberikan damai sejahtera dan sukacita yang tidak pernah habis. Melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam kita, Tuhan memberi kita buah penguasaan diri agar kita bijak memilih mana yang bernilai kekal dan mana yang hanya kenikmatan sementara. [NAW]