"Wise men say, only fools rush inâ¦" begitulah lirik terkenal milik Elvis Presley dalam lagunya "Canât Help Falling in Love". Frasa pembuka lagu ini menarik, karena menyiratkan nilai perkataan seorang bijak yang patut untuk didengarkan, yaitu agar tidak terburu-buru dan gegabah dalam soal asmara. Nasihat ini pun relevan dalam aspek hidup lainnya, sebab kita seringkali menghadapi persimpangan: apakah kita telah bertindak dengan hati-hati dan cermat; atau justru terburu-buru mengikuti perasaan, dorongan, dan tekanan. Akan tetapi, kebijaksanaan hidup tidak sesederhana itu. Pengalaman hidup memperlihatkan bahwa bertindak hati-hati hanya merupakan sebagian kecil faktor, dan itu tak sepenuhnya menjamin kita luput dari kemalangan. Karena itu, Alkitab sebagai sumber segala hikmat, mengajarkan bahwa kebijaksanaan sejati bukan sekadar kehati-hatian, melainkan suatu kualitas yang bersumber dari rasa takut akan Tuhan dan pengenalan akan Yang Mahakudus (Ams 9:10).
Tanpa fondasi "takut akan Tuhan" dan "pengenalan terhadap karakter-Nya yang kudus", semua kata-kata bijak hanya berhenti pada level moral, terbatas (tidak bisa menjawab hal-hal di luar nalar), dapat berujung pada kebanggaan diri sendiri, dan tidak menuntun pada kekekalan. Tetapi saat kita memiliki hikmat yang sejati, yaitu hikmat yang bersumber dari rasa takut akan Tuhan, hikmat-Nya menunjukkan arah yang benar, hikmat-Nya menolong kita mempergunakan pengetahuan dan informasi, hikmat-Nya menolong kita membedakan mana yang fana dan mana yang kekal, hikmat-Nya menopang kita tetap teguh ketika ujian datang. Dengan hikmat ilahi, manusia bukan hanya bertahan hidup, tetapi dimampukan untuk hidup dengan tujuan, damai sejahtera, dan pengharapan yang melampaui keadaan. Seperti yang dikatakan professor Perjanjian Lama, Bruce K. Waltke, bahwa hikmat berarti melampaui dunia manusia yang telah jatuh, dan mengambil bagian dalam hal-hal yang bersifat ilahi dan kudus. Karena itu, langkah pertama untuk memperoleh hikmat sejati adalah dengan menumbuhkan rasa takut dan hormat kita kepada Allah, dan itu dibuktikan melalui ketaatan kita kepada nasihat serta perintah-Nya dalam hal sikap hati, keputusan, integritas, hubungan dengan sesama, ibadah, dan dalam seluruh aspek hidup kita lainnya. Ingat kata Pemazmur, "perkembangan dalam kebijaksanaan diperoleh dengan menaati hukum-hukum-Nya". Ketika Anda hidup sesuai kehendak-Nya, lihatlah bagaimana kehidupan Anda akan dipenuhi oleh keputusan-keputusan yang bijaksana. [LS]