Saat Nehemia memimpin pembangunan tembok Yerusalem, ia menghadapi pertentangan dari Sanbalat, Tobia, orang Arab, orang Amon, dan orang Asdod. Mereka bukan hanya mengejek dan menertawakan, tetapi juga mengancam dan merencanakan serangan. Ketika Sanbalat dan kawan-kawan bersepakat memerangi Yerusalem, Nehemia beserta orang-orangnya berdoa kepada Allah dan mengadakan penjagaan siang dan malam. Nehemia adalah contoh orang yang tahu apa artinya bergantung pada Allah: mereka bergantung supaya Allah memampukan dan menolong, bukan supaya Allah melakukan pekerjaan itu untuk mereka. Memang kita melihat beberapa contoh dalam sejarah bangsa Israel seperti dalam 2 Tawarikh 20, dimana Tuhan nampaknya turun tangan secara ajaib berperang bagi orang Israel. Tapi perlu kita garisbawahi, bahwa peristiwa semacam ini merupakan kekhususan, bukan kelaziman. Jadi, prinsip penting dari kehidupan yang bergantung pada Allah, harus diterima dengan kesediaan memikul tanggung jawab.
Hari ini, kita mungkin memiliki "tembok-tembok" yang sedang kita bangun, entah itu keluarga, pelayanan, bisnis, karakter pribadi, atau masa depan. Belajarlah dari Nehemia yang mengerti bahwa iman bukan sekadar berlutut dan berdoa, tetapi juga tentang bekerja dan bertanggung jawab. Doa tanpa usaha bisa menjadi keyakinan tanpa wujud, sedangkan usaha tanpa doa menjadi langkah tanpa arah. Kita melihat banyak orang memulai dengan doa yang berapi-api, namun segera padam karena tak melangkah. Kita juga melihat orang-orang yang sibuk berupaya, tapi kehilangan arah dan makna karena tidak berdoa. Berdoa dan bekerja harus seimbang agar gairah tetap menyala dan langkah tetap terarah. Karena itu, berdoalah. Tunjukkan ketergantungan pada Allah melalui doa, permohonan, dan ucapan syukur kepada-Nya. Di samping itu, tetap lakukan bagian kita sekuat tenaga, sambil mempercayakan hasilnya ke dalam tangan Tuhan. [LS]