Pernahkah Anda terlibat debat kusir dengan seseorang? Apa pun yang kita katakan akan selalu disanggah, disalahpahami, diputarbalikkan, dan malah menyulut emosi yang lebih besar. Akan ada saat-saat kita diperhadapkan dengan "orang bebal" seperti yang dikatakan dalam kitab Amsal. Biasanya mereka adalah orang yang keras kepala, sulit diajar, sulit diberi tahu. Mereka beranggapan bahwa hanya pemikiran, prinsip, ide, dan ucapan mereka-lah yang benar dan patut didengar. Orang-orang demikian kerap kali hanya memancing perdebatan yang tidak sehat dan tidak produktif. Itu sebabnya, penulis Amsal mengajarkan hikmat dalam berbicara dengan orang-orang tersebut, "Jangan menjawab orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan engkau sendiri menjadi sama dengan dia. Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak."
Ketika membaca ayat ini sekilas, kita mungkin mendapati adanya kontradiksi. Jika di ayat 4 kita diperintahkan untuk jangan menjawab orang bebal, namun di ayat selanjutnya kita diperintahkan untuk menjawab orang bebal. Di sini, penulis Amsal sedang mengajarkan kita untuk menanggapi sesuatu dengan bijaksana, bukan secara impulsif. Kita harus tahu kapan saatnya menjawab dan kapan tidak perlu menjawab. Perbedaannya adalah ketika seseorang memperdebatkan suatu hal yang menyerang pribadi kita, yang sifatnya merendahkan dan mempermalukan kita, dalam hal inilah kita tak perlu menjawab. Tanggapan emosional kita terhadap mereka hanya akan memperburuk keadaan dan merusak citra kita sebagai orang percaya. Berdebat untuk menang, membalas ejekan dengan ejekan, dan terjebak dalam percakapan sia-sia, hanya akan menyeret kita turun ke level kebodohan yang sama dengan mereka. Namun, saat seseorang memperdebatkan suatu hal yang menyerang dan memelintir kebenaran firman Tuhan, maka kita harus menjawab. Bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan agar kebenaran ditegakkan dan mencegah adanya penyesatan. Jawaban yang bijak atas hal ini dapat menjadi tamparan kasih yang menyadarkan, dan membatasi pengaruh buruknya terhadap orang lain. Sebaliknya, sikap diam kita dapat membuat orang lain menjadi tersandung. Justru dengan menjawabnya kita bisa membuka mata orang lain dan menjadi alat Tuhan untuk menyatakan terang di tengah kegelapan. Itulah yang dimaksud dengan ada saatnya diam, dan ada saatnya berbicara. Ada waktu di mana diam menjaga kita dari kejatuhan, dan ada waktu di mana perkataan benar menegakkan kebenaran. [RS]