Pada zaman bacaan Alkitab hari ini ditulis oleh Rasul Paulus, orang Yahudi pada abad pertama sangat terkesan dengan kekuasaan dan tanda-tanda ajaib. Mereka menghargai tanda-tanda sebagai bukti otoritas seorang nabi atau Mesias. Kristus yang disalibkan tentu saja di mata mereka bukan demonstrasi kekuasaan, melainkan kelemahan. Pun dengan orang Yunani, mereka sangat terkesan dengan intelektualisme, filsafat, retorika, dan hikmat dunia. Bagi mereka, Injil tidak mengandung hikmat. Adalah suatu kebodohan untuk percaya bahwa iman kepada seorang "penjahat" yang disalibkan dapat menyelamatkan siapa pun dari dosa-dosa mereka.
Dengan latar belakang kondisi demikian, Rasul Paulus katakan bahwa ia tidak datang dengan kata-kata indah atau dengan hikmat manusia. Paulus sangat tahu bahwa salib Kristus bukan sekadar argumen cerdas atau retorika yang memukau, ia memilih untuk memberitakan pesan Injil dengan bergantung penuh pada kuasa Roh Kudus. Paulus datang dengan pendekatan sederhana yang mengutamakan pesan, bukan pembawa pesannya (ayat 2). Saat ini pun kita hidup di dunia yang mengagungkan bukti visual melalui tanda-tanda spektakuler, mukjizat; dan juga logika melalui ilmu, kecerdasan, dan argumentasi. Hal itu tidak sepenuhnya salah, tapi yang harus kita pahami adalah Injil bukanlah soal membuktikan siapa yang paling pandai berdebat, atau siapa yang bisa menunjukkan mukjizat paling besar. Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya (Roma 1:16). Karena itu, kita pun dipanggil memberitakan Kristus yang disalib, bukan dengan mengandalkan hikmat dunia atau daya tarik manusia. Jangan mengandalkan kepandaian kita untuk meyakinkan orang. Penginjilan kita bukan soal "seberapa lihai kita berbicara", tapi seberapa setia kita menyampaikan tentang Kristus. Kita tidak perlu menunggu mukjizat besar untuk jadi saksi Kristus. Kesaksian sederhana dari hidup kita yang diubahkan adalah mukjizat itu sendiri. Ingat bahwa dalam pelayanan Injil, kita harus terus bergantung pada Roh Kudus. Sebab yang mengubahkan hati ialah pekerjaan Roh dalam diri pendengar. [LS]