Seorang teman pernah berkata: kita tidak akan pernah bisa benar-benar bahagia saat menghadapi sesuatu yang benar-benar berat. Dia juga berkata, bagaimana mungkin orang kanker bisa benar-benar bahagia; bagaimana mungkin orang yang dikhianati bisa benar-benar bahagia. Saya pun sempat berpikir bahwa kehidupan Kristen adalah semacam perjalanan penderitaan di dunia kemudian barulah kebahagiaan di surga. Tapi baru-baru ini, saya merenungkan bagaimana orang-orang penuh penderitaan seperti Paulus ditemukan bersukacita (2 Kor 6:10; Fil 3:1; 4:4), atau Yakobus di tengah krisis dan penganiayaan dapat menganggapnya sebagai suatu kebahagiaan (Yak 1:2). Akhirnya sampailah kita pada satu kesimpulan: bagi orang-orang yang mengenal Yesus, kebahagiaan bukanlah suatu keadaan yang dicapai, bukan pula sesuatu yang hanya ditunggu di ujung jalan kehidupan, kebahagiaan itu sudah menjadi kenyataan dari hidup yang kekal sejak saat ini.
Jika Anda sedang bergumul dengan perasaan bahagia, ketahuilah bahwa kebahagiaan kita yang sejati seharusnya dimulai sejak kita mengikut Yesus. Pesan-Nya dalam bacaan Alkitab hari ini memberi tahu kita bahwa orang yang mencari kepuasan diri akan gagal, tetapi orang yang menyangkal diri demi Yesus akan menemukan kehidupan; dan kebahagiaan sejati sebagai efeknya. Menyangkal diri dan mengikut Yesus merupakan satu-satunya cara untuk menemukan hidup. Sebab kebenarannya adalah kita tidak akan pernah hidup sampai kita benar-benar berjalan dalam "kematian" bersama Yesus. Kematian disini berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yesus รข melepas ego, kepentingan, dan cara hidup lama kita. Bagaimana caranya memperoleh hidup kebangkitan tanpa mati terlebih dahulu, seperti kata Paulus, "Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami." Banyak orang rindu mengalami kuasa kebangkitan, tapi tidak mau terlibat persekutuan dalam penderitaan-Nya dan menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya (Fil. 3:10). Ingat, kuasa kebangkitan tak pernah terpisah dari salib, kesulitan dan kemuliaan selalu berkaitan. Pada akhirnya, bahagia di tengah derita merupakan buah dari persatuan dengan Kristus yang hidup di dalam kita. Rasa bahagia di tengah derita bukan karena penderitaan itu menyenangkan, melainkan karena Kristus hidup di dalam kita, memberi makna, kekuatan, dan damai yang dunia tak bisa berikan. Dengan memahami dan mengalaminya, Anda akan menemukan kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah Anda temukan melalui pemenuhan diri sendiri. Lain kali teman Anda bertanya, "mungkinkah merasa bahagia di tengah derita?" Jawabannya adalah: bisa, bagi orang-orang yang telah benar-benar mengenal Yesus. [LS]