Melalui komunikasi dengan orang-orang sekitar, kita menemukan berbagai macam kebiasaan bertutur kata. Ada orang yang perkataannya cenderung membangun, ada juga yang cenderung negatif dan melemahkan. Tak jarang kita memandang suatu ucapan hanya sebagai bunyi atau sarana menyampaikan pesan. Namun sadarkah kita, bahwa ucapan yang keluar dari mulut seseorang sebenarnya mencerminkan kondisi individu secara mendalam.
Dari bacaan Alkitab hari ini, Yesus mengajarkan analogi pohon dan buah. Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik pula. Hubungan keduanya tidak bisa dipisahkan. Pohon melambangkan hati, dan buah melambangkan ucapan yang keluar dari mulut kita. Hati yang baik bukan sekadar hati yang positif menurut moralitas manusia, tetapi dipenuhi hikmat Tuhan yang murni, membawa damai, lemah lembut, dan penuh belas kasihan, sehingga menghasilkan perkataan yang penuh pengharapan dan sukacita (Yak 3:17). Sebaliknya, jika hati belum sepenuhnya tunduk pada kebenaran Tuhan, maka perkataan yang dihasilkan cenderung bernada keluhan, keputusasaan, dapat melukai diri sendiri ataupun orang lain. Karena itu, marilah kita renungkan, apakah kata-kata yang kita ucapkan setiap hari adalah buah baik dari hati yang dipenuhi hikmat Tuhan, atau justru sebaliknya? Kita pun tidak perlu memaksakan agar kata-kata kita selalu terdengar rohani. Yang terpenting adalah kita perlu menundukkan diri kepada kebenaran Tuhan, menerima hikmat-Nya di hati, dan membiarkan Roh Kudus menuntun agar kasih dan kebenaranlah yang keluar dari mulut kita. Apa yang dahulu diucapkan seperti "nasibku selalu sial" dibaharui oleh Roh Kudus menjadi "Tuhan mengerjakan segala sesuatu dalam hidupku demi kebaikanku". Yang sebelumnya berkata "lebih baik mati" kini menjadi "Dalam kelemahanku, kuasa Tuhan semakin nyata", atau dari yang sebelumnya berkata "hidupmu enak, kamu pewaris, aku perintis", diubahkan menjadi "Tuhan tahu bagianku, aku bersyukur atas peran dan tugas yang Ia percayakan padaku.". Inilah buah dari pohon yang baik, bukan hanya hiasan bibir semata, tetapi berkenan di mata Tuhan dan memberkati sesama. [SR]