Di dalam Roma 14, Rasul Paulus pernah menegur orang-orang Kristen Yahudi, yang karena "keyahudiannya" merasa diri lebih superior sehingga dengan mudahnya menghakimi orang-orang Kristen non-Yahudi mengenai hal makanan dan hari-hari perayaan di Roma. Kalau mau jujur, beberapa di antara kita pun ada yang dengan mudah menghakimi saudara seiman yang sedang terjatuh atau sedang dalam masalah hanya karena kita adalah orang Kristen "lama" dan merasa diri jauh lebih rohani dari mereka. Padahal sudah jelas bahwa yang memampukan kita adalah Tuhan dan bukan kekuatan kita sendiri.
Hal serupa terjadi di kota Yerikho ketika Tuhan Yesus meminta Zakheus â seorang kepala pemungut cukai yang sangat dibenci orang-orang Israel pada masa itu â untuk segera turun dari pohon ara sebab Yesus mau menumpang di rumahnya. Zakheus yang dicap sebagai orang berdosa sangat antusias dan menerima Yesus dengan sukacita. Namun respons orang-orang yang mengikut Yesus justru sebaliknya, mereka bersungut-sungut kepada Yesus karena Ia mau makan di rumah orang berdosa. Tetapi kejadian itu tidak melemahkan iman Zakheus yang bersukacita karena Tuhan telah datang mencarinya, oleh karena itu ia menindaklanjuti imannya dengan komitmen pertobatan, yaitu membagikan setengah hartanya kepada orang-orang miskin dan jika ada hasil memeras orang lain akan ia kembalikan empat kali lipat. Melihat buah pertobatan Zakheus, tidakkah hati kita tergerak untuk menemukan lebih banyak "Zakheus-Zakheus" lainnya di sekitar kita? Sebagai orang percaya masa kini, marilah kita meneladani kasih Kristus terhadap mereka yang terhilang yaitu orang-orang yang mungkin di cap sebagai "orang berdosa", melalui aksi nyata dengan tidak menghakimi mereka; melainkan bersikap terbuka, belajar menerima mereka dengan sukacita, menceritakan karya keselamatan Kristus baginya serta mendorongnya dalam komitmen pertobatan tiap-tiap hari. [AP]