Di sekeliling kita, ada beberapa orang yang tampaknya selalu memiliki ide cemerlang, handal mengelola usaha, bisnis, atau pekerjaannya, disiplin dalam hidup, bahkan terlihat menawan saat berkata-kata dan memberi solusi atas permasalahan yang ada. Alkitab menyatakan ada yang disebut hikmat dunia, yaitu pengetahuan, kecerdikan, dan juga kepandaian. Kita dapat melihatnya dalam 1 Korintus 1:19-20 versi NLT, dimana manusia sangat mungkin membuat rencana-rencana yang strategis dan memiliki buah pikiran yang cerdik. Mereka termasuk para sarjana, filsuf, pemikir, dan para ahli debat tentang perkara-perkara besar dalam dunia ini. Namun di samping itu, penulis Yakobus membandingkan dua macam sumber hikmat, yaitu yang dari atas – dari Allah sendiri, dan yang dari dunia ini.
Kita memang tidak dapat mengetahui secara otomatis sumber hikmat seseorang, sebab hikmat bagaikan iman; kualitas batin yang tak kasat mata. Tetapi Yakobus menjelaskan bahwa orientasi dan buah dari kedua sumber hikmat ini dapat dibedakan. Karakteristik hikmat dunia akan selalu selalu berorientasi pada kepentingan diri sendiri dan keuntungan pribadi. Ini karena seseorang masih menyimpan ambisi egois dan iri hati (ay 14). Bukan tidak mungkin mereka penuh kritik dan suka memprovokasi. Sekali pun yang dikatakan orang tersebut terasa "make sense", ujungnya dapat berbuah kesombongan, perpecahan, dan ketidakadilan. Teolog James Moffatt menyatakan bahwa pandangan yang terasa benar dan nasihat yang baik sekali pun dapat kehilangan pengaruhnya jika diungkapkan oleh orang-orang yang masih mementingkan diri sendiri. Sedangkan hikmat yang datang dari atas selalu berorientasi pada pemuliaan Allah dan membangun sesama manusia. Ini karena seseorang memiliki kelemahlembutan dalam dirinya (ay 13). Alhasil, mereka menunjukkan sikap murni (tidak ada sikap dan motif yang berdosa), suka berdamai, ramah, rela mengalah, berbelas kasih, terus terang dan tidak munafik. Hikmat seperti ini penuh dengan buah-buah yang baik, dan mereka sendiri akan menuai panen kebaikan. Dengan ini, Yakobus mengingatkan kita bahwa hikmat sejati bukan lahir dari kepandaian, kecerdikan, atau strategi manusia, melainkan dari Allah. Jika Anda pintar, berpendidikan, cendekiawan, atau pemikir brilian, ingatlah untuk tidak berpuas dengan itu, tetapi carilah hikmat yang berakar pada relasi dengan Tuhan, supaya kita pun menghasilkan buah yang nyata dalam perbuatan baik. [LS]