Raja Salomo mengakui bahwa uang memiliki kekuatan perlindungan; misalnya untuk membeli akses kesehatan, membeli tempat tinggal, dan membeli keamanan. Tetapi ia juga memberi tahu "asset" yang setara dengan uangâbahkan lebih baik, yaitu hikmat. Hikmat melindungi dengan cara memberi pengertian, arahan, dan kemampuan untuk menghindari bahaya atau risiko hidup. Hikmat lebih unggul dari uang, karena uang bisa habis atau gagal melindungi, tetapi hikmat disebut memelihara hidup pemiliknya.
Meski hikmat sangatlah berharga, Salomo memberi tahu realitas pahit bahwa di dunia ini, hikmat sering kali diabaikan atau bahkan dihina jika tidak dibarengi dengan status dan kekayaan. Salomo memberi contoh: sekali pun orang miskin menyelamatkan sebuah kota dengan hikmatnya, tidak ada seorang pun yang akan mengingat orang miskin itu. Oleh karena kita mengetahui kebenaran tentang berharganya hikmat dan juga realitas menyedihkan tentang pengabaian hikmat, maka di akhir Pengkhotbah 9, Salomo menasihati kita agar lebih memperhatikan suara orang berhikmat yang diucapkan dengan tenang, daripada teriakan penguasa orang-orang bodoh. Di zaman kita saat ini, lihatlah betapa banyaknya orang yang populer dan berkuasa namun tidak berhikmat dalam ucapannya. Mereka bicara dengan ucapan yang dolak dalik, seperti ada udang di balik batu (Ams 4:24-25). Karena itu, pesan firman hari ini adalah: belilah kebenaran dan jangan menjualnya; demikian juga dengan hikmat, didikan, dan pengertian. Kita harus memiliki mentalitas yang bersedia bahkan rela berkorban demi memperoleh kebenaran dan juga hikmat â dengan cara meneliti firman Tuhan, menambah pengetahuan, informasi, dan juga belajar kepada yang lebih berhikmat. Jaga hikmat itu dalam hati kita, pegang hikmat erat-erat, dan jangan menjualnya demi keuntungan sesaat (keuntungan materi, posisi, kekuasaan, pengakuan sosial). Dalam praktiknya yaitu jangan tukar suara Tuhan demi tepuk tangan manusia, karena yang menepuk pundakmu hari ini bisa berbalik meninggalkanmu esok hariâtetapi hikmat dari Tuhan akan menuntunmu selamanya. Jangan tukar suara Tuhan demi keuntungan materi yang tidak jelas dan tidak kita pahami sumbernya. Jangan tukar suara Tuhan demi jalan pintas yang tampak lebih mudah dan nyaman. Ingat, hikmat adalah asset terbesar, yang meski tidak selalu dihargai dan diingat oleh dunia, tetapi akan terus memelihara hidup kita dan bisa memberi manfaat bagi sekeliling kita. [LS]