Setiap orang yang hendak membangun rumah, perlu memperhatikan fondasi bangunan mereka. Apakah mereka akan membangun di atas batu yang kokoh, atau di atas pasir yang tidak stabil. Mereka bisa memilih lantai marmer maupun dinding granit, tapi saat badai datang, itulah ujian sesungguhnya bagi rumah mereka. Yang membangun di atas batu, rumahnya tetap kokoh berdiri. Sedangkan yang membangun di atas pasir, rumahnya akan segera roboh.
Rumah adalah gambaran dari kehidupan kita, dan pertanyaannya sekarang, apakah kita membangun kehidupan kita di atas batu atau di atas pasir? Yesus menjelaskan dua jenis orang, yaitu yang bijaksana dan yang bodoh. Orang bijaksana adalah orang yang mendirikan rumah di atas batu, yaitu mereka yang mendengarkan Firman Tuhan dan taat melakukannya. Sedangkan orang bodoh adalah orang yang mendirikan rumah di atas pasir, yaitu mereka yang mendengar firman tapi tidak menaatinya. Disini kita paham bahwa kebodohan bukan soal kurangnya pengetahuan, melainkan pengabaian kebenaran. Mereka yang mengabaikan kebenaran sama dengan mereka yang lebih memilih jalan instan dan menaruh kepercayaan pada hal-hal duniawi. Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak orang yang tampak baik-baik saja dari luar: sukses, terlihat rohani, punya relasi luas. Akan tetapi ketika badai persoalan datang – masalah keluarga, godaan dalam bisnis, pengkhianatan dalam pekerjaan, fitnah dalam pelayanan, sakit penyakit– barulah terlihat apakah mereka membangun di atas batu atau di atas pasir. Batu melambangkan kebenaran firman yang tak tergoyahkan, mereka yang membangun di atas batu sama dengan mereka yang taat pada kebenaran Firman Allah, sehingga ketika badai hidup datang, mereka tidak mudah kecewa, mereka lebih suka mengampuni, tidak mudah terganggu berita miring, dan masih banyak kualitas-kualitas yang muncul karena ketaatan mereka pada Firman Tuhan. Itulah mengapa mereka disebut bijaksana. Mereka rela bayar harga untuk taat, sebab mereka tahu hal-hal yang tampak sulit pada awalnya, akhirnya akan menyelamatkan mereka pada saat badai hidup datang. Karena itu, periksa fondasi hidup kita, apakah kita sudah benar-benar menjadi pelaku firman atau sebatas pendengar. Ingat, cepat atau lambat, badai kehidupan pasti datang, itulah saat dimana fondasi hidup kita akan diuji. Semoga fondasi hidup kita terbukti kokoh di dalam Kristus. [IR, LS]