Seseorang pernah menulis di media sosialnya demikian, "Be nice to me and I̢۪ll be nice to you. Hurt me, and you̢۪ll see another side of me." (Bersikaplah baik padaku, maka aku pun akan bersikap baik padamu. Sakiti aku, maka kau akan melihat sisi lain diriku). Sekilas terdengar wajar dan adil, bahkan ada orang yang merasa perlu mengembalikan kebaikan lebih besar daripada yang ia terima, namun jika yang ia terima kejahatan, maka ia pun merasa perlu membalasnya berkali-kali lipat. Tanpa sadar, kita sering merasa pembalasan adalah hak pribadi, terutama ketika diperlakukan tidak adil dan jahat.
Di dalam Lukas 6:27-30, Tuhan Yesus memerintahkan: kasihilah musuhmu, berbuat baiklah kepada orang yang membencimu, berkatilah orang yang mengutukmu, doakanlah orang yang mencaci kamu, berikanlah pipimu yang lain kepada yang menampar pipimu yang satu, berikan bajumu kepada mereka yang mengambil jubahmu dan berilah tanpa mengharapkan kembali. Ini tentu bukan hal yang mudah. Namun sebagai pengikut Kristus, kita sudah seharusnya mencontoh teladan Yesus dan senantiasa berusaha menjadi cerminan dari Tuhan yang kita sembah. Ia adalah kasih tanpa syarat, Ia maha pengampun, dan Ia murah hati. Tetap berbuat baik meski kita diperlakukan buruk membutuhkan kedewasaan rohani dan penyaliban daging. Secara daging kita selalu ingin menerapkan prinsip pembalasan. Namun kita harus selalu ingat, kita dipanggil untuk menjadi refleksi Tuhan (reflection of God) dan bukan refleksi kedagingan. Biarlah melalui sikap dan kelakuan kita sehari-hari, orang sekitar dapat melihat cerminan Kristus dan kasih-Nya. Hal ini memang mudah diperkatakan dan sulit diterapkan, namun itulah yang sudah seharusnya kita lakukan untuk membedakan kita dari orang-orang yang tidak mengenal Kristus. Lakukanlah perintah-Nya demi kemuliaan nama-Nya. [EV]