Tuhan kita adalah Tuhan yang bekerja, dan Ia memanggil kita untuk produktif. Namun produktivitas yang sehat selalu mengalir dari relasi dengan Dia yang telah memanggil kita. Di sinilah kita perlu berhati-hati, sebab kesibukan sering menyamar bagaikan kesetiaan, padahal perlahan menjebak kita dalam ilusi bahwa nilai hidup ditentukan oleh seberapa banyak yang kita kerjakan.
Ketika kita tak punya ruang untuk bersekutu dengan Tuhan, kesibukan berubah menjadi jebakan. Pepatah rohani berkata, "Jika Iblis tidak bisa membuat kita jahat, ia akan membuat kita sibuk." Dalam praktiknya, kita mungkin berkata, "Nanti aku akan berdoa jika sudah selesai bekerja." Namun ânantiâ itu tidak pernah tiba, karena pekerjaan kita tidak akan pernah ada habisnya. Lama-lama, kita kehilangan kepekaan terhadap suara Tuhan, kehilangan rasa haus akan firman, bahkan kehilangan sukacita yang dulu kita miliki saat bersekutu dengan-Nya. Karena itu perhatikanlah peringatan Rasul Petrus, "Sadarlah dan berjaga-jagalah" (1 Ptr. 5:8). Berjaga-jaga berarti hidup dengan kesadaran rohaniâtidak terhanyut oleh ritme dunia. Peringatan ini sangat penting, karena Iblis tidak perlu menarik kita keluar dari gereja, ia cukup membuat kita terlalu sibuk. Lihatlah berapa banyak orang Kristen aktif melayani, hadir dalam ibadah, dan terlibat dalam kegiatan rohani, tetapi hatinya menjauh dari Tuhan. Tubuhnya sibuk, rohnya kosong. Alhasil mereka mengalami kelelahan, kekhawatiran, kemarahan, dan kekosongan rohani bukan karena terlalu banyak pekerjaan, melainkan karena terlalu sedikit waktu bersama Tuhan. Sebab siapakah yang dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia? (Pkh 2:25). Inilah buktinya bahwa kesibukan tanpa penyembahan akan memutus kita dari sumber kehidupan itu sendiri. Bersyukurlah untuk peringatan yang kita terima hari ini. Di tengah semua kesibukan kita, berhentilah sejenak. Datanglah kepada Tuhan bukan karena kita sempat, tetapi karena kita sadar: tanpa Dia, seluruh kesibukan kita kehilangan makna. [FD]