Kisah Simson menunjukkan kekuatan besar yang dianugerahkan oleh Tuhan, sekaligus menceritakan sisi kelemahan Simson sebagai manusia. Dalam Hakim-hakim 16:2-3, kita dapati Simson menunjukkan kekuatannya. Saat ditangkap, Simson dengan perkasa mencabut pintu gerbang kota Gaza, termasuk tiang dan palangnya, lalu memanggulnya di atas bahu. Kekuatan Simson menjadi simbol dari kuasa Tuhan yang menyertai umat-Nya. Namun, hanya beberapa ayat setelahnya, kita menyaksikan kontras yang sangat tajam. Waktu berlalu, dan di tempat yang sama, Simson kembali, namun matanya telah dicungkil, rambutnya telah digunduli, dan hatinya telah dijinakkan oleh kompromi yang ia lakukan berkali-kali. Kini Simson telah kehilangan kekuatannya. Kini ia tak lagi membawa pintu gerbang di bahunya, tetapi justru berdiri di antara tiang-tiang penyangga sebagai seorang "tahanan yang melawak" karena dipermalukan. Kota yang sama menjadi saksi bagaimana Simson kembali ke sana bukan lagi sebagai seorang pahlawan, melainkan sebagai tawanan.
Sungguh ironis! Tempat yang sama menjadi panggung kemuliaan dan kejatuhan Simson. Simson kalah bukan karena kurangnya kekuatan dari Tuhan, bukan pula karena kebodohannya atas tipu daya, tetapi justru karena bermain-main dengan sikap kompromi, mengabaikan peringatan, dan tidak menjaga kekudusan panggilannya. Saat Simson berada di titik terendahnya, Tuhan yang berbelas kasih dan setia pada janji-Nya mendengar Simson ketika ia meraba-raba tiang-tiang itu dan berseru kepada Tuhan. Dalam hidup ini, kita pun bisa mengalami kemenangan dan kejatuhan. Kita mungkin pernah menang dalam iman, menang dari godaan atau pun ujian. Namun itu tak berarti kita kebal selamanya. Dari Simson kita telah diajar untuk tidak bermain-main apalagi kompromi dengan dosa dan titik lemah kita. Jangan izinkan diri kita diperdaya oleh rayuan si Jahat dan godaan dosa. Panggilan kita adalah panggilan kudus, karenanya kita harus terus konsisten menjaga integritas, kekudusan, dan hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Sehingga kita dapat selalu mengalami kemenangan dari Kristus, sebagai "orang-orang pemenang" di dalam Dia. Semoga kita terus berjalan dari kemuliaan menuju kepada kemuliaan. [RS]