Mazmur Daud yang kita baca hari ini adalah nyanyian syukur yang meluap dari hati umat Allah. Daud memuji Tuhan sebagai Pribadi yang mengampuni, memulihkan, dan memahkotai hidup umat-Nya dengan kasih setia. Ia mengenang bagaimana Allah setia memerdekakan umat-Nya dan menuntun mereka sepanjang hidup. Kita perlu menyadari bahwa gambaran Allah yang penuh belas kasih itu bukan hanya milik umat Perjanjian Lama, tetapi kita pun merasakannya sampai hari ini. Kasih yang dulu dipujikan Daud, kini dinyatakan secara sempurna melalui kelahiran Yesus Kristus ke dalam dunia.
Natal mengingatkan kita bahwa Allah tidak hanya memulihkan keadaan lahiriah umat-Nya, tetapi memulihkan hati dan hubungan kita dengan Dia. Yesus datang agar manusia yang terhilang, letih, dan terpisah oleh dosa dapat kembali kepada hadirat Allah. Lewat kelahiran Kristus, kita diingatkan bahwa kita diperdamaikan seutuhnya dengan Allah yang penuh kasih sejak dahulu kala hingga selamanya. Bukankah ini hal luar biasa yang sepatutnya kita syukuri? Persoalannya sekarang banyak orang memandang Natal secara dangkal. Perayaan, hadiah, suasana, dan kebersamaan tentu patut kita syukuri. Tetapi betapa kecilnya Natal jika kita hanya berpaut pada hal-hal material tersebut, bukan kepada anugerah terbesar Allah lewat kelahiran Yesus Kristus. Kita tidak perlu lagi mencari makna hidup dan pemulihan dengan kekuatan sendiri, sebab Kristus telah datang dan melalui Dia kita menemukan kedamaian jiwa di hadirat-Nya. Karena itu Natal adalah undangan untuk bersyukur, terutama untuk jalan damai yang Yesus sediakan bagi kita. Marilah kita merayakan Natal dengan hati yang dipenuhi rasa syukur dan dengan hidup yang mencerminkan kabar baik itu. Kiranya ucapan syukur kita dapat dilihat melalui tindakan kasih, pelayanan, dan kesediaan untuk memberitakan bahwa di dalam Kristus, setiap manusia dapat kembali ke dalam pelukan Bapa yang memulihkan. [JW]