Bacaan Alkitab hari ini ditulis oleh Rasul Paulus kepada Timotius, hamba Tuhan muda yang melayani jemaat di tengah ajaran sesat, perdebatan-perdebatan yang tidak membangun, dan godaan hidup yang dapat melemahkan integritas mereka. Timotius diingatkan agar tidak larut dalam "takhayul dan dongeng nenek-nenek tua", ini adalah istilah untuk ajaran yang terdengar rohani tetapi tidak berakar pada kebenaran firman. Di tengah derasnya "takhayul dan dongeng nenek-nenek tua" itu, Paulus memberikan nasihat bagi Timotius agar mempergunakan waktu serta tenaganya untuk melatih diri supaya ia tetap sehat secara rohani (1 Tim 4:7 FAYH). Pada akhirnya–mengenai isu ajaran sesat ini, Paulus menutup pesannya dengan nasihat inti yang juga relevan bagi setiap orang percaya di zaman ini, yaitu: awasilah dirimu dan ajaranmu.
Mengawasi diri berarti senantiasa memeriksa motivasi, kecenderungan hati, dan juga kebiasaan kita. Banyak di antara kita yang mengalami kemerosotan rohani bukan karena serangan eksternal, tetapi karena kurang menjaga disiplin rohani dan kemurnian hati kita di hadapan Tuhan. Kita sering mengabaikan ketidakjujuran yang terkesan sepele, kemalasan rohani, dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang dibiarkan tumbuh subur. Karena itu, hari ini kita diingatkan untuk mengawasi diri kita dengan melakukan perenungan dan koreksi terhadap motivasi serta kecenderungan hati kita di hadapan Tuhan, dan juga kembali meningkatkan kedisiplinan kita untuk menolak hal-hal yang senonoh dan tidak membangun. Kemudian mengawasi ajaran berarti setiap pemimpin di harus teguh pada kebenaran. Namun nasihat ini juga berlaku bagi kita semua, karena orang Kristen harus memastikan imannya dibangun di atas firman yang benar; bukan perasaan, opini, atau budaya yang sedang tren. Mengawasi ajaran berarti kita harus menguji apa yang kita percayai, apa yang kita bagikan, dan apa yang kita praktikkan – apakah itu sesuai firman, atau hanya sesuai selera? Sebab ketika kita mengawasi diri dan ajaran, kehidupan kita menjadi kesaksian yang kuat. Kita tidak hanya menjaga diri dari penyimpangan, tetapi juga menolong orang di sekitar kita agar tidak tersesat. Hidup yang berhati-hati dan ajaran yang sehat dapat Tuhan pakai sebagai saluran anugerah untuk membawa kejelasan, penguatan, bahkan keselamatan bagi orang lain. Dengan demikian hidup kita memiliki bobot rohani yang tidak hanya membangun diri sendiri, tetapi juga mempengaruhi sekitar kita. [LS]