Di suatu pagi yang sibuk di stasiun kereta Washington DC, seorang pria memainkan biola layaknya musisi jalanan. Kebanyakan orang hanya berjalan melewatinya, tanpa sedikit pun menoleh. Dari seribu orang lebih yang melewatinya, hanya tujuh orang yang menonton sebentar. Dalam waktu 45 menit, pria ini berhasil mengumpulkan sekitar 32 dolar dari 27 orang. Tidak banyak yang menyadari bahwa ia adalah Joshua Bell, salah satu pemain biola terbaik dunia. Biola yang ia mainkan saat itu pun adalah Stradivarius buatan tahun 1713 yang harganya sangat fantastis. Dua hari sebelumnya, Joshua Bell baru saja menggelar konser dengan harga 100 dolar per tiker dan habis terjual. Orang yang sama, musik yang sama, dan biola yang sama, hanya tempatnya saja yang berbeda. Eksperimen yang diprakarsai oleh Washington Post ini menarik kesimpulan bahwa seberapa besar penghargaan yang diterima suatu karya seni sangat bergantung pada tempat, lingkungan, dan orang-orang di sekitarnya.
Bukan hanya di dunia seni; dalam dunia kerja, pergaulan, bahkan pelayanan, fenomena seperti ini sering terjadi. Terkadang, seseorang yang kompeten menjadi kurang bersinar karena lingkungannya yang kurang bisa mengenali atau mengakui kemampuan orang tersebut. Memang penghargaan tidak seharusnya menjadi motivasi utama seseorang untuk bekerja dengan baik, terutama karena orang percaya tahu mereka harus selalu memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan dari Tuhan-lah mereka akan mendapat upahnya. Namun peristiwa ini sekaligus menegur kita tentang betapa mudahnya kita mengabaikan nilai seseorang hanya karena ia hadir di tempat yang tidak "seharusnya." Kita sering memberikan penghargaan hanya berdasarkan panggung, "exposure", atau konteks-konteks tertentu. Kita memuji ketika seseorang berada di kursi terhormat, namun gagal menghargai ketika ia berdiri di sudut-sudut yang tak terlihat. 1 Petrus 2:17 The Message menegaskan "Treat everyone you meet with dignity", artinya kita harus memperlakukan setiap orang yang kita temui berdasarkan martabat yang Tuhan berikan kepada mereka. Hari ini mari bayangkan sejenak, siapa "Joshua Bell" yang hadir di "stasiun" kehidupan kita â mereka yang bernilai tetapi luput dari perhatian kita? Sapalah mereka dengan hormat, jabat tangannya, ucapkan terima kasih dengan tulus, akui kontribusinya. Jadilah pribadi yang menghargai setiap orang â bukan hanya berdasarkan konteks, tetapi berdasarkan martabat yang Tuhan berikan kepada setiap manusia. [EV, LS]