Kebencian itu seperti sampah. Ketika dibiarkan menumpuk, bau busuknya semakin menyengat dan mengundang "hama" lain seperti lalat, tikus, dan nyamuk. Tidak ada seorang pun yang betah berada dekat tumpukan sampah. Karena itulah kita segera mengosongkan tempat sampah sebelum isinya menumpuk. Demikian juga dengan kebencian yang harus segera disingkirkan sebelum merusak hati dan melahirkan perilaku jahat.
Salah satu buah dari kebencian adalah gosip dan fitnah. Kita cenderung menjelek-jelekkan orang yang tidak kita sukai demi menyalurkan kebencian dan mencari dukungan. Namun penikmat gosip pun ibarat lalat dan nyamuk yang mengerumuni sampah—kehadiran mereka tidak pernah membawa kebaikan. Penulis Amsal mengatakan bahwa siapa pun di antara kita yang masih menyembunyikan kebencian, ia sama dengan pendusta. Di zaman modern ini, sangat sedikit orang yang akan mengakui dosa kebencian, mereka akan cenderung menyembunyikan motivasi mereka yang didorong oleh kebencian. Ini menjadi peringatan serius bagi kita karena dusta adalah kekejian di mata Allah. Hari ini, mari periksa hati kita, adakah kebencian yang masih kita sembunyikan? Jangan biarkan hati kita menjadi tempat sampah yang tersembunyi di balik senyum dan kepura-puraan. Kita harus segera membuang kebencian dan mengisi hati kita dengan kasih sebab hanya kasih yang mendatangkan kesembuhan. Ambil langkah konkret. Akui di hadapan Tuhan mengenai kebencian kita, serahkah kepada-Nya setiap rasa sakit yang memicu kita untuk membenci. Minta pertolongan Roh Kudus yang memampukan kita untuk memberi respons yang mencerminkan kasih Kristus. Lalu mulailah berdoa untuk orang yang kita benci, sebut namanya di hadapan Tuhan, mintalah berkat dan kebaikan baginya. Hentikan setiap percakapan yang mengarah pada gosip dan fitnah. Ketika kita memilih jalan kasih, Tuhan memampukan kita meruntuhkan kebencian dan menjadikan hati kita tempat di mana damai dan kebenaran bertumbuh. [JW]