Kecenderungan manusia adalah memperhatikan dirinya sendiri. Demi mengejar kepuasan dan kepentingan pribadi, seseorang bisa melupakan orang sekitarnya. Beberapa diantaranya bahkan tak segan mencurangi atau mengorbankan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Jika kita salah satunya, kita benar-benar harus bertobat, karena sikap hidup seperti itu sama sekali tidak mencerminkan seorang pengikut Kristus.
Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi Dia dan juga sesama kita. Kasih inilah yang harus mendasari kita dalam melakukan segala hal dan mengambil keputusan. Tuhan menghendaki kita untuk mengasihi-Nya dengan cara menjadi representatif yang baik selama kita hidup. Menyadari hal ini, maka seharusnya kita tidak terfokus pada diri sendiri lagi, tetapi membuka mata kepada sekitar kita. Ada baiknya kita menanyakan beberapa hal pada diri sendiri sebelum melakukan sesuatu, seperti: "apakah tindakan dan keputusan saya sesuai kata Firman Tuhan?", "apakah sesama saya akan semakin mengenal Tuhan atau justru saya telah menjadi batu sandungan bagi mereka?", "apakah tindakan dan keputusan saya membawa damai bagi sekitar saya?". Pertanyaan ini dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan membantu menjawab beberapa pertanyaan yang sering kali masih dianggap abu-abu; seperti soal merokok, vape, tato, tindik, alkohol, gaya berpakaian, tingkah laku di social media, dan lain sebagainya. Tanyakan dan pertimbangkan berulang kali sebelum melakukan hal-hal demikian. Lihat apakah hal-hal itu membawa kita kepada pengenalan yang semakin baik akan Tuhan, tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, dan juga membangun diri sendiri. Hindarilah melakukan hal-hal kontroversial sehingga kita tetap menjadi representatif yang baik bagi sesama. Dengan demikian, kita mewujudnyatakan kasih kepada Tuhan dan sesama. Jadi jangan biarkan ego membungkam kasih karena hidup kita adalah cerminan Kristus di dunia ini. [JW]