Natal bukan sekadar perayaan kelahiran seorang bayi di palungan, Natal adalah momen di mana Allah turun ke dalam sejarah manusia melalui Yesus Kristus. Ia datang bukan hanya untuk memberi kita "hadiah", tetapi untuk menuntut respons yang mengubah hidup, yaitu ketaatan. Ketika malaikat memberi tahu para gembala (Luk. 2:15-16); ketika malaikat memberi tahu Maria (Luk. 1:35-38); dan ketika malaikat memberi tahu Yusuf (Mat. 1:20-24), kita melihat satu kesamaan respons, yaitu ketaatan yang lahir dari iman dan kerendahan hati.
Para gembala, Yusuf, atau pun Maria menginspirasi kita untuk menajamkan prioritas bahwa yang kita butuhkan di momen Natal ini bukan "lebih banyak" melainkan "lebih benar". Ketika kita berdoa "All I want for Christmas isâ¦", yang mungkin terbersit di pikiran adalah berkat-berkat materi. Tetapi firman hari ini mengajak kita menginginkan sesuatu yang lebih radikal, yaitu ketaatan. Sebab di dunia yang bising dan dipenuhi keinginan diri sendiri, ketaatan sama seperti menyiapkan ruang kosong bagi Allah untuk bekerja dalam kehidupan kita, membentuk, memperbarui, dan menumbuhkan hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya. Ketaatan menjadi bahasa hati kita yang mengasihi Allah. Yesus sendiri mengatakannya dengan cara yang sederhana namun sangat dalam: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku." Kasih kepada Kristus selalu berwujud dalam ketaatan, dan kasih kepada Tuhan bukan diukur dari seberapa meriah kita merayakan Natal, tetapi dari seberapa dalam kita menuruti firman-Nya. Karena itu, "All I want for Christmas is Obedience" bukan sekadar kalimat indah, melainkan kerinduan yang dalam untuk mengasihi Tuhan melalui kehidupan yang taat. Di bulan Natal ini, mari kita buktikan kasih kita kepada Tuhan dengan memilih taat saat Tuhan meminta kita untuk mengampuni seseorang yang telah menyakiti kita, taat saat Tuhan meminta kita untuk berintegritas sekalipun rugi, taat saat Tuhan meminta kita berdoa di tengah godaan, taat saat Tuhan menggerakan hati kita untuk memberi bagi seseorang. Ingat, kasih yang sejati selalu diwujudkan dalam ketaatan, di situlah Kristus benar-benar lahir dan hidup dalam diri kita. [LS]