Momen Natal identik dengan pemberian hadiah, yang melambangkan indahnya kasih Tuhan dan kasih kepada sesama. Saat masih kecil, kita menantikan sesuatu yang menarik dan menghibur. Tetapi seiring bertambahnya usia dan kerasnya realitas hidup, "hadiah" yang kita rindukan juga berubahâpekerjaan, kesehatan, uang, atau jodoh. Hadiah-hadiah itu sering kali menjadi cerminan dari apa yang paling kita inginkan. Dan ketika hal-hal itu tidak kita peroleh, kita merasa seolah kehilangan harapan.
Tuhan mengetahui setiap kebutuhan umat-Nya (Mat. 6:32). Ia juga mengerti kesedihan, tekanan, dan kecemasan yang kita rasakan saat kebutuhan itu belum terpenuhi. Namun di tengah segala pergumulan itu, Tuhan mengajar kita untuk tidak menambatkan harapan pada hal-hal yang sementara karena Ia ingin kita menemukan damai yang tidak tergantung keadaan dan pengharapan yang tidak bisa dirampas oleh apapun, yakni pengharapan di dalam diri-Nya sendiriâPribadi yang telah datang ke dunia untuk menghadirkan harapan yang sejati dan kekal. Kelahiran Yesus Kristus menjadi bukti bahwa Allah tidak meninggalkan kita dalam keputusasaan. Di tengah malam yang sunyi, harapan itu lahir dalam wujud seorang bayiâSang Imanuel, Allah yang beserta kita. Melalui-Nya, Allah menepati janji dan membuka jalan keselamatan bagi manusia. Itu sebabnya Rasul Paulus berkata dalam Roma 15:13, "Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan." Harapan sejati bukanlah hasil dari keadaan yang baik, tetapi karunia yang lahir dari iman kepada Kristus. Dialah yang menyalakan kembali api pengharapan ketika hati kita mulai lelah, dan meneguhkan kita untuk tetap percaya sekalipun belum melihat jalan keluarnya. Karena itu, di tengah segala keinginan dan harapan yang belum terwujud, marilah kita kembali memusatkan hati kepada Kristus. Biarlah Natal kali ini menjadi momen di mana kita bukan hanya merindukan berkat, tetapi merayakan kelahiran-Nya sebagai simbol harapan yang sejati, yang meneguhkan kita untuk tetap percaya, yang membuat kita tetap mampu bersukacita, dan yang terus melingkupi kita dengan damai sejahtera-Nya. [SR]