Nehemia terbilang pria pemberani. Dari kenyamanan di istana, menuju medan pembangunan; dari hidup yang dilindungi raja, kepada hidup yang terancam oleh musuh di wilayah berbahaya; dari tangan yang menyuguhkan anggur bagi raja, kini memegang batu dan pedang. Nehemia memang pergi dengan sumber daya yang cukup, tapi ada satu hal yang tidak dapat diberikan oleh Artahsasta, yaitu keberanian.
Langkah-langkah Nehemia memancing pertanyaan dalam benak kita, "benarkah rasa cinta pada kenyamanan perlahan membunuh keberanian kita?" Sebab kenyataannya, karakter dipertajam melalui konfrontasi, kehormatan diberikan melalui ujian, dan medali diperoleh melalui peperangan. Selama kita terus memilih berada di zona nyaman, keberanian tidak bertumbuh, dan terobosan jarang terjadi. Karena itu kita akan menelaah keberanian seorang pria yang berhasil membangun tembok Yerusalem melalui sepenggal kisahnya. Musuh Nehemia â yakni Tobia dan Sanbalat, memiliki mata-mata di dekat Nehemia. Namanya Semaya bin Delaya bin Mehetabeel, ia adalah nabi palsu yang diupah untuk menjebak Nehemia dengan ancaman psikologis. Kata Semaya, "Biarlah kita bertemu di rumah Allah, di dalam Bait Suci, dan mengunci pintu-pintunya, karena ada orang yang mau datang membunuh engkau, ya, malam ini mereka mau datang membunuh engkau." Nasihat Semaya tampak penuh perhatian, tapi sebenarnya ia sedang memancing rasa takut. Kita akan melihat sumber keberanian Nehemia melalui jawabannya: "Orang manakah seperti aku ini yang akan melarikan diri? Orang manakah seperti aku ini dapat memasuki Bait Suci dan tinggal hidup? Aku tidak pergi!" Keberanian Nehemia bersumber dari keyakinan teguh akan jati dirinya karena ia tahu siapa Allahnya. Allah sendiri yang mengutusnya untuk visi pembangunan kembali. Jadi, apakah orang dengan jati diri seperti itu, dan dengan Allah yang seperti itu, pantas untuk lari ketakutan? Kita adalah prajurit Kristus Yesus. Prajurit tidak lari dari pertempuran, kita bergerak dalam pengorbanan dan risiko sebagai hamba Kristus. Kenyamanan dan kemudahan di istana bukanlah tempat bagi seorang prajurit Kristus saat "tembok" perlu dibangun. Semaya juga menakut-nakuti Nehemia agar ia melanggar hukum Allah dengan mengajaknya masuk ke bait suci untuk berlindung. Jika saja Nehemia kalah dengan rasa takutnya, kepemimpinannya akan dipertanyakan dan reputasinya bisa hancur. Tapi Nehemia tidak diperintah oleh rasa takut, ia tahu betul isi hati Allah sebagaimana yang terungkap dalam firman-Nya. Dari Nehemia, kita belajar hidup dengan berani, yaitu dengan tidak terikat pada zona nyaman, dengan tahu betul jati diri kita di dalam Tuhan, dan dengan mengenal isi hati Tuhan melalui firman-Nya, serta hidup di bawah otoritas-Nya. [LS]