Sadarkah kita, Natal adalah kisah kasih Allah yang paling agung, yang dinyatakan saat Yesus datang ke dunia yang tenggelam oleh dosa? Namun, di balik kisah kasih yang begitu agung, kasih itu datang tanpa sambutan meriah. Anak Allah tidak lahir di istana atau diumumkan di aula kerajaan, juga tidak disambut paduan suara manusia. Ia justru lahir di kandang, tempat yang jauh dari kemuliaan dunia. Manusia tidak memperhatikan-Nya, tidak menyediakan ruang bagi-Nya, bahkan sebagian menolak-Nya. Namun justru di dalam kerendahan itu, kasih Allah menampakkan kemurniannya: kasih yang memberi bukan karena disambut, tetapi karena Allah telah menetapkan untuk mengasihi umat-Nya.
Yesus Kristus tetap menyatakan kasih-Nya meski tak dibalas. Yesus tak menunggu hati kita siap, namun Ia hadir di tengah jiwa yang hancur, di "palungan" hati manusia yang masih kotor dan berdebu, di saat manusia sibuk dengan urusannya sendiri. Yesus "mengetuk" ruang hati setiap kita dan mengasihi kita ketika kita masih berdosa. Dari sini kita paham esensi Natal adalah kasih Allah yang ditanyakan melalui Yesus. Jika Natal adalah tentang kasih, maka doa kita ketika merayakannya adalah agar kita dapat mengenal kasih itu dengan lebih dalam. Kita dipanggil untuk terus menggali betapa lebarnya, panjangnya, tingginya, dan dalamnya kasih Kristus—kasih yang melampaui segala pengetahuan (Ef. 3:18–19). Berdoalah agar hati kita dipenuhi oleh kasih Kristus, lalu belajarlah mengasihi sebagaimana Dia telah mengasihi kita dengan kasih tanpa syarat, kasih yang berani hadir di tengah penolakan, kasih yang tetap memberi meski tidak dihargai. Tunjukkan kasih itu kepada orang-orang yang sulit dikasihi, di keluarga, di tempat kerja, di ruang-ruang yang dingin, di hati yang membeku karena luka, di relasi yang retak, dan di setiap sudut yang membutuhkan sentuhan kasih Allah. Because all we want for Christmas is love. [RS]