Pernahkah Anda melihat seseorang diperlakukan istimewa karena penampilan atau statusnya yang terpandang, sementara orang lain diperlakukan seadanya? Inilah gambara nyata "favoritisme" yang terjadi di berbagai aspek seperti pekerjaan, pertemanan, keluarga, bahkan gereja. Memberi perlakuan khusus sebagai ucapan terima kasih kepada seseorang karena usaha dan komitmennya tentu adalah hal yang baik. Namun, persoalan terjadi ketika perlakuan tersebut hanya diberikan kepada orang-orang tertentu berdasarkan bias pribadi (subjektivitas). Inilah yang menjadi sinyal favoritisme telah menguasai hati kita.
Favoritisme bukan sebatas bentuk kekaguman atau penghargaan, tetapi sikap yang menempatkan standar manusia di atas kehendak Tuhan, yaitu ketika kita mulai menilai seseorang berdasarkan fisik, harta, jabatan, atau atribut duniawi lainnya. Meski favoritisme biasanya tampak sebagai keberpihakan kepada mereka yang âterpandangâ, kita juga perlu ingat bahwa favoritisme bisa muncul dalam bentuk sebaliknya, yaitu ketika seseorang memihak kelompok tertentu hanya karena ia membenci atau menolak pihak yang dianggap kuat atau berkuasa, entah karena luka masa lalu maupun dorongan untuk menebar kebencian. Rasul Yakobus menegur jemaat yang mengaku beriman kepada Kristus namun masih membeda-bedakan orang berdasarkan muka, status, dan kekayaan. Ketika kita melakukannya, kita sebenarnya sedang menilai mereka dengan "pertimbangan yang salah", dan disinilah Yakobus menunjukkan bahwa favoritisme bukan saja bentuk ketidaktulusan, tetapi juga bentuk penghakiman yang jahat. Jujur saja, sikap seperti ini tidak bisa hilang sekaligus secara otomatis, tetapi bisa kita kikis perlahan. Mari akui di hadapan Tuhan jika kita masih membeda-bedakan orang. Bayangkan apa jadinya hidup kita jika Allah mengasihi kita dengan syarat. Puji Tuhan kasih-Nya selalu menerima dengan tangan terbuka, tanpa syarat, dan tanpa memandang muka. Sebagaimana Tuhan telah lebih dahulu mengasihi kita, kiranya kita pun mengasihi setiap jiwa sebagai ciptaan-Nya yang berharga. Kita melakukannya bukan dengan kekuatan kita sendiri, melainkan dengan kuasa Tuhan yang memampukan (1 Yohanes 4:19-21). Mulai praktikkan dengan menyambut seseorang yang biasanya Anda abaikan, dengarkan orang yang biasanya Anda lewati begitu saja. Satu praktik kecil bisa menjadi awal perubahan besar, seperti kata penulis C. S. Lewis, "Orang Kristen yang berusaha memperlakukan setiap orang dengan baik, mendapati dirinya menyukai semakin banyak orang seiring berjalannya waktu, termasuk orang-orang yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan disukainya pada awalnya". [SR]