Momen Natal identik dengan berbagai macam perayaan. Kita menggunakan momen di akhir tahun ini sebagai waktu untuk mencari kesenangan, hiburan, diskon, dan lain sebagainya. Tanpa kita sadari, perayaan Natal perlahan bergeser menjadi sekadar momen pemuasan diri sendiri, bukan momen merenungkan kelahiran Kristus yang jauh lebih mulia dari semuanya.
Dalam bacaan Alkitab hari ini, Paulus menegaskan bahwa Kristus datang ke dunia "supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia" (2 Korintus 5:15). Kristus hadir bukan hanya membawa damai dan sukacita, tetapi juga pembaharuan hidup â mengubah arah hidup kita dari berpusat pada diri menjadi berpusat pada Dia. Pada masa itu, jemaat Korintus sedang terjebak dalam kesombongan rohani dan loyalitas yang salah kepada figur-figur manusia. Mereka lebih mengejar pengaruh dan kepentingan diri, padahal mereka telah mengenal Kristus. Paulus mengingatkan bahwa kasih Kristus harus menguasai dan menggerakkan hidup mereka. Artinya, pembaharuan bukan hanya soal tindakan luar, tetapi perubahan paradigma dan gaya hidup. Hari ini, kita mungkin tidak mengalami pergeseran moral yang drastis seperti jemaat Korintus. Tetapi berhati-hatilah, sebab kita bisa jatuh pada kesalahan yang sama saat kita menjadikan Natal berpusat pada perasaan, keinginan, dan kesenangan kita sendiri. Kita bisa merayakan Natal tanpa sungguh-sungguh memandang kepada Kristus dan karya-Nya. Natal yang sejati memanggil kita untuk kembali pada kasih Kristus yang sanggup memperbarui hati kita. Saat hati kita dibaharui oleh kasih-Nya, hidup kita ikut berubah. Kita belajar mengasihi Tuhan sungguh-sungguh, mengasihi sesama, memberi, melayani, dan taat pada kehendak-Nya, bukan karena tuntutan tetapi karena kasih itu menggerakkan hati kita. Kiranya Natal ini bukan hanya tentang selebrasi, tetapi tentang pembaruan hati dan arah hidup. Mari kita hidup bagi Kristus yang telah lebih dulu datang dan mengasihi kita. [JW]