Bacaan Alkitab hari ini menggambarkan keadaan bangsa Israel ketika mereka baru saja melewati Laut Teberau. Mereka berjalan selama tiga hari dan persediaan air mereka habis. Dalam perjalanan tiga hari itu tidak ditemukan sumber air untuk diminum. Keadaan ini secara manusiawi menimbulkan perasaan yang campur aduk. Hingga akhirnya tibalah mereka di tempat bernama Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air di sana, karena rasa airnya pahit. Tempat inilah yang secara eksplisit dicatat sebagai tempat pertama kalinya mereka bersungut-sungut (ay. 24).
Bangsa Israel tiba di Mara bukan karena kebetulan, tetapi karena Tuhan menuntun mereka ke sana. Tuhan yang membawa mereka keluar dari Mesir dan menyeberangkan mereka melalui Laut Teberau adalah Tuhan yang sama yang membawa mereka ke tempat ini. Namun Mara menjadi tempat ujian bagi iman merekaâujian yang seharusnya mengingatkan mereka pada kuasa dan kesetiaan Tuhan. Alih-alih percaya, mereka malah bersungut-sungut. Kita pun pernah berada dalam situasi seperti bangsa Israelâmenghadapi hal-hal sulit yang seakan tak ada solusinya. Namun kita tidak perlu menanggapi dengan bersungut-sungut seperti mereka. Kita melihat meski bangsa Israel berulang kali mengalami kesulitan, Tuhan tetap menjauhkan mereka dari tulah, membebaskan mereka dari perbudakan, dan menyertai mereka menyeberangi Laut Teberau. Demikian pula hari ini: Tuhan yang sama terus menyediakan jalan keluar bagi kita. Tetap percaya memang tak mudah ketika keadaan tidak berubah. Tetapi jangan menyerah, sebab Allah kita adalah Allah yang setia pada janji-Nya. Allah yang membuat air Mara menjadi manis adalah Allah yang sama yang sanggup menyatakan pertolongan-Nya di tengah pergumulan kita. Tugas kita adalah hidup taat pada ketetapan dan perintah-Nya, dan Ia pasti memelihara langkah-langkah kita (Kel. 15:26). [JW]