Banyak orang Kristen menjalani iman sebagai rutinitas. Kerinduan untuk mengenal Allah pun sering muncul bukan dari hati yang rela, melainkan karena tuntutan lingkungan, tekanan pelayanan, atau ketakutan akan konsekuensi. Iman dijalani sebagai kewajiban, bukan sebagai respons kasih.
Firman Tuhan hari ini memuat pesan Daud kepada Salomo. Sebagai raja besar, Daud tidak mewariskan strategi politik atau kekuatan militer, melainkan sesuatu yang jauh lebih penting dan mendasar, yaitu relasi dengan Allah. Daud memahami bahwa kerajaan dapat dibangun oleh tangan manusia, tetapi kehidupan hanya ditegakkan oleh hati yang mengenal Tuhan. Karena itu ia berkata, "Kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati." Dari perkataan Daud ini, kita memahami bahwa ibadah sejati tidak lahir dari paksaan atau tuntutan eksternal, melainkan dari hati yang lebih dulu disentuh oleh anugerah Allah. Sebab kata "kenallah" atau yang dalam bahasa aslinya "yada", menegaskan bahwa mengenal Allah bukan sekadar pengetahuan tentang Dia, melainkan relasi yang nyata dan berjalan bersama-Nya setiap hari. Kemudian pengenalan itu harus diwujudkan dalam ibadah sebagai pengabdian hidup, yang lahir dari hati yang rela—bukan karena paksaan, tetapi sebagai respons sukacita atas anugerah-Nya. Karena itu, marilah kita memeriksa kembali, apakah ibadah dan pelayanan kita berakar pada kasih dan sukacita, dan apakah setiap langkah yang kita ambil setiap hari telah mencerminkan pengenalan yang nyata kepada Allah. Mari jadikan hubungan dengan Allah bukan sebagai kewajiban rohani, melainkan sebagai perjumpaan pribadi yang menghidupkan jiwa, di mana hati kita dikenal, dikasihi, dan dipulihkan oleh-Nya setiap hari. [RS]