RENUNGAN INSPIRASI
Gray divorce merupakan perceraian yang terjadi di usia tua (50 tahun ke atas) atau pada pernikahan jangka panjang. Di Amerika, 36 persen dari semua perceraian yang terjadi adalah gray divorce. Sebab utama gray divorce bukanlah satu kejadian mendadak, melainkan akumulasi jarak emosional, penumpukan konflik yang tak pernah diselesaikan, dan juga perubahan musim hidup. Banyak keluarga berjalan dalam mode "autopilot" tanpa pernah sungguh-sungguh memeriksa arah keluarga. Kebiasaan keluarga terbentuk dan pola hidup diwariskan begitu saja. Tanpa disadari, beberapa keluarga memelihara cara berkomunikasi yang dingin, gaya hidup yang egois, kasih yang bersyarat, serta keputusan yang lebih dipimpin emosi daripada kebenaran. Semua tampak "normal", namun perlahan menggerus kehidupan rohani, keintiman antar keluarga, dan juga damai sejahtera di dalam rumah. Ketika kebiasaan yang tidak sehat dibiarkan, kehidupan keluarga mungkin tetap berjalan - namun anggota keluarga tanpa sadar sedang membangun "tembok" satu sama lain.
Di titik inilah masing-masing anggota keluarga harus sadar, bahwa membangun keluarga yang sehat perlu diupayakan dan disengaja. Sama seperti mengupayakan badan yang sehat, keluarga yang sehat terbentuk melalui pilihan-pilihan kecil yang dijalani secara konsisten. Keluarga yang sehat terlihat dalam kebiasaan mereka berkomunikasi, mereka lambat berbicara dan cepat mendengar. Sehingga mereka dapat berpikir untuk mengeluarkan kata-kata yang membangun daripada kata-kata yang melukai. Keluarga yang sehat terlihat dalam kebiasaan mereka mengambil keputusan, mereka akan selalu kembali kepada firman Tuhan sebelum memutuskan. Keluarga yang sehat juga akan terlihat dari cara mereka memperlakukan satu sama lain. Mereka menjadikan kasih sebagai dasar dan motivasi dalam memperlakukan orang tua, pasangan, anak, kakak/adik. Karena itu, setiap anggota keluarga dipanggil untuk berhenti sejenak, memeriksa kesehatan keluarga, dan merenungkan: ke mana keluarga ini sedang berjalan? Apakah kita semakin dekat satu sama lain, atau justru semakin jauh? Apakah rumah kita menjadi tempat bertumbuhnya kasih, atau hanya tempat menjalani rutinitas? Di sinilah kita belajar dari keputusan Yosua yang dengan penuh kesadaran menetapkan arah rohani keluarganya, "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN." Yosua tidak membiarkan keluarganya berjalan tanpa arah, tetapi memilih dengan tegas, sadar, dan sengaja untuk menjadikan Tuhan pusat keluarganya. Hari ini, mari kita upayakan kesehatan keluarga. Mulai dari hal sederhana seperti memperbaiki cara bicara, minta maaf untuk kesalahan yang pernah dibuat, ajak orang tua makan, dan tindakan-tindakan lain yang Anda tahu akan menyehatkan kondisi keluarga Anda. [LS]