Ada satu bahaya tersembunyi dalam kehidupan rohani, yaitu merasa diri terlalu penting dalam rencana Tuhan. Tanpa disadari, posisi, panggilan, atau kepercayaan yang kita terima bisa membuat kita berpikir bahwa Tuhan membutuhkan kita; seolah tanpa kehadiran kita, karya-Nya akan terhenti. Inilah yang disebut "messiah complex": merasa diri tak tergantikan, menganggap diri pusat solusi, dan mengaitkan nilai diri dengan peran "penyelamat". Jika tidak segera diatasi, perasaan ini bisa berubah menjadi kesombongan rohani yang membuat kita lebih sibuk menjaga peran daripada menaati panggilan, dan lebih takut kehilangan posisi daripada ikut perintah Tuhan.
Masalah ini mengingatkan kita pada perkataan Mordekhai kepada Ratu Ester ketika ia didorong untuk memperjuangkan nyawa orang Yahudi di hadapan Raja Ahasyweros. Katanya, "sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain" (Ester 4:14). Mordekhai percaya bahwa rencana Tuhan tidak bergantung pada satu orang, pekerjaan-Nya tidak dibatasi oleh respons Ester. Sekali pun Ester memilih tidak bertindak, Allah tetap sanggup menyelamatkan umat-Nya melalui cara dan orang lain. Tetapi disinilah keindahan dan kemuliaan sebuah panggilan, bahwa Tuhan berkenan memilih dan mempercayakan tugas itu kepada Ester. Perenungan hari ini mengajak kita merendahkan hati. Tuhan tidak pernah kehabisan cara, orang, atau jalan untuk menggenapi kehendak-Nya. Namun Ia dengan penuh kasih mengundang kita untuk terlibat. Karena itu, jangan hidupi panggilan dengan rasa eksklusif, seolah kita tak tergantikan, tetapi dengan rasa syukur dan gentar akan Tuhan. Sebab yang Tuhan cari bukan orang yang merasa paling penting, melainkan hati yang mau taat ketika Ia berkata, "siapakah yang mau Kuutus?" [LS]