Nehemia 3 berisi pembagian kerja dalam pembangunan kembali tembok Yerusalem di bawah kepemimpinan Nehemia. Selain menunjukkan pentingnya kerja sama dalam mencapai visi yang Tuhan berikan, kita juga melihat bahwa manusia membutuhkan kehadiran seorang pemimpin yang berdedikasi, untuk memotivasi serta mengorganisasi mereka.
Bangsa Yahudi sebenarnya sudah kembali ke Yerusalem selama 90 tahun lebih, pun orang-orang di dalam Nehemia 3 merupakan orang-orang yang telah tinggal di sana selama bertahun-tahun, namun tembok itu belum juga dibangun sampai Tuhan mengangkat Nehemia untuk memimpin. Kita bisa bayangkan bagaimana Nehemia datang, dan membuat orang-orang bersemangat dengan idenya. Nehemia memiliki beberapa kualitas, salah satunya Nehemia sangat paham bahwa motivasi adalah kunci produktivitas. Kebanyakan orang mengalami masalah motivasi, tak terkecuali kita. Suatu pekerjaan bisa kita tunda-tunda karena kita kurang termotivasi melakukannya. Sampai tiba-tiba sesuatu terjadi, contohnya klien mengirim bingkisan, mertua akan berkunjung, atau rumput liar depan rumah mulai menghalangi pandangan, dan hal-hal lain dimana kita mulai melihat pentingnya menyelesaikan pekerjaan. Kemungkinan demikianlah yang dilihat Nehemia, sehingga salah satu cara Nehemia memotivasi ialah dengan memahami konteks hidup para pekerja, dan menempatkan mereka untuk bekerja di bagian tembok yang paling mereka rasakan kepemilikannya. Para imam membangun kembali pintu gerbang Domba, tempat yang berhubungan dengan tugas rohani mereka (ay. 1). Orang-orang lainnya memperbaiki bagian tembok di depan dan di samping rumah mereka (ay. 10, 17, 23, 28-30). Jadi mereka memiliki keterlibatan personal untuk melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Alih-alih kontrol yang kaku, Nehemia memiliki kecerdasan relasional untuk memotivasi orang lain. Dia melihat apa yang penting bagi mereka–rumah mereka, minat mereka, kebutuhan mereka, bahkan harga diri mereka sebagai umat Allah (Neh. 2:17). Nehemia tidak memaksa, Ia menempatkan orang-orang di tempat dimana hati mereka tinggal. Semoga dari Nehemia kita pun belajar kecerdasan relasional, dengan menyentuh hati seseorang sebelum kita menuntut tangannya bekerja atau kakinya melangkah. [LS]