Kita melihat fakta bahwa tidak semua orang dapat menikmati makanan yang tersedia di meja makannya, liburan yang sedang dijalaninya, atau barang-barang yang dibelinya. Ada yang makan dengan rasa tidak enak, ada yang berlibur dengan rasa gelisah, ada pula yang membeli banyak barang dan tidak pernah sekali pun menggunakannya. Pengkhotbah menunjukkan bahwa Tuhan bukan hanya mengaruniakan kekayaan, harta benda, dan kehormatan; Ia juga yang mengaruniakan kuasa untuk menikmatinya (Peng. 6:2).
Di dalam bacaan Alkitab hari ini, Pengkhotbah mengajak kita untuk melihat adanya berkat yang terlihat sederhana namun sesungguhnya sangat berarti, yaitu jika kita bisa makan, minum, dan menikmati hasil jerih payah kita. Di sinilah kita disadarkan bahwa karunia menikmati adalah tanda kasih Tuhan yang sangat berharga dalam keseharian kita. Ini bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa dalam kita bisa bersyukur dan hadir penuh (being present) dalam setiap momen yang Tuhan izinkan. Pengkhotbah bahkan berkata bahwa orang yang menerima karunia ini "tidak sering mengingat umurnya" karena hatinya dipenuhi dengan sukacita dari Tuhan. Artinya, hidup kita tidak habis dalam keluhan, penyesalan, atau kecemasan—melainkan dipenuhi rasa cukup dan damai. Hari ini, Tuhan mungkin tidak sedang menambah apa yang ada di meja makan atau rekening kita. Tetapi Ia sanggup mengubah apa yang ada di dalam hati kita. Dari hati yang gelisah menjadi hati yang mampu menikmati. Dari jiwa yang terus merasa kurang menjadi jiwa yang tahu berkata "cukup". Karena itu, sekali-kali cobalah kurangi kecepatan hidup Anda. Lihat baik-baik, dan jangan remehkan momen sederhana seperti makanan yang tersaji hangat, waktu luang bersama orang terkasih, dan tugas-tugas yang bisa kita kerjakan hari ini. Bisa jadi, di situlah Tuhan sedang memberikan karunia-Nya yang berharga, yaitu kemampuan untuk menikmati hidup. [LS]