Di balik citra yang sering kita bangun dan pergumulan atau kegagalan yang kerap kita simpan sendiri, ada satu kerinduan terdalam dalam hati manusia, yaitu ingin dikenal apa adanya, namun tetap diterima dan dikasihi. Kabar baiknya, kasih karunia Tuhan menjawab kerinduan itu. Kita melihatnya dalam kehidupan Musa. Musa bukanlah manusia yang sempurna. Ia pernah ragu, takut, merasa tidak mampu, bahkan sempat menolak panggilan Tuhan. Namun justru di tengah segala keterbatasannya, Tuhan berkata kepadanya, "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau" (Kel. 33:17). Pernyataan ini muncul setelah Musa memohon agar penyertaan dan kehadiran Tuhan tetap menyertai bangsanya. Menariknya, Tuhan tidak hanya menjawab permintaan Musa, tetapi juga menegaskan relasi pribadi-Nya dengan Musa. Ketika Tuhan berkata, "Aku mengenal engkau", kata yang digunakan adalah "yada", yang dalam bahasa aslinya berarti mengenal secara pribadi dan memperhatikan dengan sungguh. Ini bukan sekadar mengetahui identitas seseorang, melainkan pengenalan yang intim. Tuhan tidak hanya mengenal Musa sebagai seorang pemimpin. Tuhan mengenal ketakutannya, keraguannya, kelemahannya, juga kerinduan hatinya. Namun tetap menerima, memilih, dan meneguhkan dia. Dari relasi pengenalan inilah Musa mengalami kasih karunia, penyertaan Tuhan, dan jawaban atas doanya. Semakin Musa mengenal Tuhan, semakin ia mengalami bahwa ia juga dikenal dan dikasihi oleh Tuhan.
Pengenalan yang penuh kasih ini menjadi dasar keberanian Musa untuk meminta pada Tuhan, dan menjadi dasar pengharapan kita hari ini. Kita mungkin sering merasa tak cukup layak, berpikir harus sempurna agar Tuhan berkenan. Namun hari ini kita diingatkan bahwa hubungan dengan Tuhan tak dimulai dari prestasi, tetapi dari kasih karunia-Nya. Ia mengenal masa lalu, kegagalan, bahkan potensi yang belum kita sadari dan tetap memberi kasih karunia-Nya. Saat kita sungguh mengenal Tuhan, memahami kasih dan karakter-Nya, kita tak lagi hidup untuk mencari pengakuan, membuktikan kita layak, atau berusaha keras supaya diterima. Kita sadar bahwa penerimaan Tuhan sudah lebih dulu diberikan melalui karunia-Nya. Jadi hidup kita tak lagi didorong oleh rasa takut, tetapi oleh rasa syukur dan keyakinan bahwa kita dikasihi Tuhan. Dari situlah kita belajar melangkah dengan taat dan percaya diri. Mulai hari ini, mari mendekat pada Tuhan, melangkah dengan keberanian untuk hidup dalam kasih karunia-Nya. [RS]