Saat Yesus dalam perjalanan menuju Yerusalem, Ia merasa lapar dan melihat dari jauh ada pohon ara yang lebat daunnya. Pohon itu tampak hidup dan menarik. Yesus mendekatinya untuk mencari buahnya. Tapi saat ia sampai di pohon itu, Ia tidak menemukan apa-apa selain dedaunannya saja. Markus menulis bahwa pada saat itu memang bukan musim buah ara. Tetapi akhirnya Yesus mengutuk pohon tersebut. Kita mungkin berpikir, mengapa Yesus mengutuk pohon ara tersebut, sedangkan memang belum musimnya untuk berbuah. Sebenarnya, kejadian itu tidak lazim terjadi pada pohon ara; umumnya pohon ara yang sudah berdaun juga memiliki bakal buah yang bisa dimakan. Masalahnya adalah pohon itu memberi kesan seolah-olah memiliki buah karena daunnya yang lebat. Jadi, pohon yang dari jauh terlihat menjanjikan itu ternyata "nol besar".
Gambaran pohon ara yang lebat daunnya tapi tak berbuah ini menjadi teguran keras bagi kita yang pintar membuat kesan palsu. Beberapa orang mungkin aktif melayani, rajin mengunggah ayat atau konten rohani, bahkan pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi kehidupan pribadinya jauh dari pertobatan dan ketaatan kepada Tuhan. Yang Yesus cari ialah buah, dan Ia mengutuk pohon ara karena memberi kesan palsu. Jika daun berbicara tentang penampilan luar yang dapat mengesankan manusia, buah berbicara tentang kehidupan yang benar-benar telah diproses dan dapat dinikmati orang lain. Buah tidak bisa dipalsukan. Cepat atau lambat, karakter asli, kasih, kesetiaan, kerendahan hati, dan ketaatan akan terlihat nyata. Itu sebabnya Yesus sangat keras terhadap kemunafikan rohani. Ingat, bahwa tujuan kita bukan untuk memberi kesan terlihat rohani, tetapi sungguh-sungguh menjadi pribadi yang menghasilkan buah-buah yang dapat dinikmati dan dirasakan oleh orang-orang sekitar kita. Jika Tuhan Yesus melihat kehidupan kita hari ini, semoga hidup kita bukan hanya dipenuhi "dedaunan", tetapi terutama dipenuhi "buah": buah kasih yang tulus dan rela berkorban, buah ketaatan saat tidak ada yang melihat, buah kesabaran dalam tekanan, buah penguasaan diri di tengah godaan, buah kerendahan hati saat diberkati, buah kesetiaan dalam perkara kecil, dan buah-buah lainnya yang memancarkan karakter Kristus sehingga membawa orang lain semakin dekat dengan Tuhan dan memuliakan-Nya. [LS]