Sering kali orang memahami bahwa kekuatan batin lahir dari ketegaran, dorongan, dan dukungan dari lingkungan sekitar. Semua itu dapat menjadi faktor pendukung yang berharga, namun bukan faktor yang utama. Hana mengajarkan kepada kita bahwa kekuatan batin justru lahir dari "ruang doa yang tersembunyi". Dengan kata lain, kekuatan batin tak ditentukan dari seberapa keras kita berjuang, tetapi seberapa dekat kita dengan Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan inilah yang akan melahirkan sikap tegar dan kemampuan untuk bertahan menghadapi berbagai tekanan hidup. Hana menjadi contoh bagaimana kekuatan batinnya dibentuk di tempat sepi, di mana hanya ada Tuhan dan air mata.
Seberapa sering dan gigih kita mencari hadirat Tuhan, menentukan seberapa kuat kita menghadapi tekanan kehidupan. Alkitab mencatat bagaimana Hana hidup dalam tekanan batin yang begitu berat. Sebagai seorang istri yang mandul, ia kerap dihina oleh madunya. Kemandulan pada masa itu merupakan aib besar di budaya Israel. Karena hal inilah Penina selalu menyakiti hati Hana supaya ia gusar. Tetapi Hana tidak membalasnya atau sibuk mencari dukungan dari sana-sini. Sebaliknya, yang Hana lakukan adalah datang sendirian ke rumah Tuhan untuk mencurahkan isi hatinya. Di Bait Allah itulah, ia menuangkan seluruh kepedihan hatinya kepada Tuhan. Hana menemukan pemulihan di saat ia membiarkan Tuhan menyentuh hatinya dalam doa tersebut. Sehingga, sebelum Hana menerima anak, ia sudah terlebih dahulu menerima kedamaian dalam hatinya. Alkitab mencatat, "Mukanya tidak muram lagi." (1 Sam. 1:18b). Dari sanalah Tuhan menguatkan, mengubah, dan akhirnya menjawab doanya. Sering kali sebelum menjawab doa kita, yang Tuhan inginkan adalah perubahan di dalam batin kita. Untuk memulihkan keadaan kita, Allah terlebih dahulu memulihkan hati kita, dan ini hanya bisa kita peroleh melalui kedekatan dengan Tuhan. Tanpa perlu dilihat dan dipuji orang lain, yang kita perlu adalah kedekatan dengan Allah. Dalam doa-doa yang tersembunyi, mungkin dengan air mata yang tercurah, penuh ketulusan dan kejujuran, di situlah kita mendapat kekuatan. [RS]