Di dalam Ibrani 12:1, kita membaca bagaimana Rasul Paulus menasihati kita untuk bertekun dalam iman, dengan menanggalkan dosa yang begitu merintangi kita. Dalam Alkitab King James Version, "dosa yang merintangi" ini disebut dengan istilah "besetting sin". Kata "beset" berarti mengepung terus-menerus, terus menempel, sulit dilepaskan, selalu datang kembali. Dalam teologi Kristen, istilah ini dipakai untuk menggambarkan kelemahan pribadi yang paling dominan, godaan yang berulang, dan pola dosa yang menjadi kebiasaan.
Setiap orang bisa memiliki "besetting sin". Ada yang mudah marah, sombong, iri, malas, terikat kecanduan atau hawa nafsu tertentu. Besetting sin tak selalu berupa dosa besar yang langsung menghancurkan. Sering kali ia justru tampak kecil, bahkan tersembunyi di balik pelayanan, kepemimpinan, dan keberhasilan. Seperti Saul, raja yang dipilih Tuhan, diurapi, bahkan pernah dipenuhi Roh Allah. Namun hati Saul lebih mengejar pengakuan manusia. Itu sebabnya, saat Tuhan memerintahkan untuk menumpas seluruh milik Amalek, Saul tidak sepenuhnya taat. Ia menyisakan yang terbaik dan membiarkan Raja Agag hidup. Saul lebih takut kehilangan dukungan manusia daripada kehilangan perkenanan Tuhan. Jadi meski masih menjabat sebagai raja, Saul kehilangan hadirat Tuhan. Alkitab mencatat sesuatu yang sangat mengerikan bahwa Roh Tuhan telah mundur dari Saul. Saul tidak kehilangan takhtanya lebih dulu, tetapi kehilangan keintimannya dengan Tuhan. Saul kemudian berubah menjadi pribadi yang penuh iri hati, mudah marah, ketakutan/paranoid, hingga ia mencari petunjuk pada pemanggil arwah. Besetting sin yang tidak dimatikan sedari awal akhirnya menghancurkan seluruh hidupnya. Teolog John Owen pernah berkata, "Bunuhlah dosamu, atau dosa itu akan membunuhmu!" Itulah sebabnya besetting sin termasuk silent killer. Dosa yang dipelihara tak berhenti pada satu titik. Dosa itu membawa hati kita jauh dari Tuhan, walau kita mungkin masih aktif melayani dan terlihat rohani. Saul punya jabatan, pengalaman rohani, bahkan urapan, tetapi tanpa hati yang mau bertobat, semuanya bisa hilang. Karenanya, kita membutuhkan Roh Kudus setiap hari, kerendahan hati untuk bertobat, serta disiplin menaati firman. [RS]