Salah satu bahaya dalam kerohanian ialah rasa puas diri. Pendeta John Bevere pernah berkata bahwa musuh utama seseorang bukan kejatuhan besar, tetapi berhenti mengejar Tuhan. Banyak orang tidak langsung meninggalkan Tuhan; mereka masih melayani, masih beribadah, dan tidak melakukan "dosa besar", sehingga merasa kondisi rohaninya baik-baik saja. Perlahan, hati menjadi nyaman dengan keadaan rohani yang stagnan dan tidak lagi memiliki kerinduan yang sungguh untuk bertumbuh dan mengenal Tuhan lebih dalam. Karena itulah rasa puas diri seperti "silent killer"; tidak menghancurkan sekaligus, tetapi membuat kita berhenti bertumbuh dan menurunkan kewaspadaan.
Tentang hal ini, Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus yang kala itu hidup di tengah kota yang penuh kemewahan, penyembahan berhala, dan kompromi moral. Mereka rentan terhadap dosa dan kesombongan rohani akibat merasa telah bebas. Paulus memperingatkan mereka agar tidak jatuh dengan bercermin pada sejarah bangsa Israel di padang gurun yang binasa karena memberontak. Mereka telah mengalami begitu banyak mujizat, dibebaskan dari Mesir, menyeberangi Laut Merah, makan manna dari Surga, dan minum dari batu karang. Namun semua pengalaman rohani itu tidak menjamin mereka tetap hidup benar. Banyak dari mereka akhirnya jatuh karena hati mereka tidak taat dan tidak takut akan Tuhan. Karena itulah Paulus menegaskan, "siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" Kata "menyangka" disini menunjukkan sikap percaya diri yang berlebihan. Sedangkan kata "hati-hatilah" (blepetÅ) adalah sikap memperhatikan dan waspada, yang bentuknya merupakan perintah aktif yang terus-menerus; bukan hanya sesekali berjaga. Paulus sedang memberi peringatan bahwa saat seseorang merasa dirinya paling kuat, justru pada saat itulah ia berada dalam posisi paling rawan untuk jatuh. Karenanya, mari periksa hati kita. Apakah kita masih memiliki kerinduan untuk mengenal Tuhan lebih dalam? Apakah hati kita masih tergugah saat mendengar firman-Nya? Jangan biarkan rasa puas memadamkan api rohani kita. Tetaplah berjaga-jaga, hidup dalam kerendahan hati, dan terus kejar pengenalan akan Tuhan. [RS]