Dalam perjalanan iman, kita dapat semakin tekun membaca dan mempelajari Alkitab, melayani, serta membagikan kebenaran kepada sesama. Jemaat di Efesus juga dikenal karena kerja keras, ketekunan, serta kesungguhan mereka menjaga kemurnian ajaran. Namun, teguran Tuhan di dalam Wahyu 2:4-5 menunjukkan bahwa segala kesibukan dan keteguhan pelayanan tersebut menjadi sia-sia jika kehilangan dasar kasih. Seseorang dapat aktif melayani, tetap mempertahankan pengajaran yang benar, bahkan tetap menjalankan disiplin rohani, tetapi perlahan kehilangan kasih yang semula kepada Tuhan. Ketika kasih kepada Tuhan mulai dingin, seluruh aktivitas rohani hanya akan menjadi formalitas belaka.
Nyatanya, kita dapat begitu sibuk menjaga kebenaran, mempelajari firman, dan melakukan berbagai aktivitas rohani, tetapi tanpa sadar membiarkan kasih kepada Tuhan menjadi dingin. Padahal, kasih kepada Kristus merupakan dasar dan juga penggerak dari seluruh kehidupan iman kita; dari kasih itulah lahir ketaatan, pelayanan, kesabaran dan ketekunan. Ketika kasih kita kepada Tuhan menjadi dingin, tindakan-tindakan rohani kita pun dapat kehilangan arah dan makna sejatinya. Bahayanya adalah kebenaran dijaga tanpa kelembutan, pelayanan dilakukan tanpa kerelaan dan sukacita, disiplin rohani dijalankan tanpa relasi yang hidup dengan Tuhan. Padahal, Tuhan bukan hanya melihat ketekunan dan pekerjaan kita, tetapi juga kondisi hati kita kepada-Nya. Karena itu, Tuhan memerintahkan agar kita kembali kepada kasih yang semula; kepada relasi yang hidup dengan Kristus, yang kemudian terpancar melalui kebenaran yang kita hidupi dan bagikan kepada sesama. Jika saat ini kita lebih sibuk mengoreksi orang lain, menunjuk kesalahan sesama, atau merasa diri lebih rohani, mungkin yang kita butuhkan bukan teologi yang lebih dalam atau jam pelayanan yang lebih banyak, melainkan pemulihan atas kasih yang mulai dingin. Hari ini, datanglah kepada Tuhan dengan hati yang rendah, berdoalah agar Roh Kudus membuka mata hati kita untuk kembali melihat keindahan Kristus, dan memimpin kita kembali kepada kasih yang semula. Kasih mula-mula bukan berbicara tentang emosi yang selalu menggebu, melainkan tentang hati yang terus menempatkan Kristus sebagai yang terutama dan menikmati persekutuan dengan-Nya. Mari kita kasihi Tuhan dengan segenap hati, dan selalu menjadikan Dia alasan utama di balik setiap ketaatan dan pelayanan yang kita lakukan. [SR, LS]