Dalam bacaan Alkitab hari ini, kita melihat sebuah keputusan yang tampaknya bersifat personal, tetapi ternyata berdampak luas. Penolakan Ratu Wasti terhadap perintah raja bukan hanya dipandang sebagai tindakan individu, melainkan dianggap sebagai ancaman bagi seluruh tatanan kerajaan. Terlepas dari alasan Ratu Wasti menolak perintah raja, para ahli hukum yang bijaksana – yang terbiasa menasihati raja, menyadari satu hal penting, yaitu: apa yang dilakukan oleh satu orang di posisi yang tinggi dan terlihat, akan dengan cepat ditiru oleh banyak orang.
Di sinilah kita diingatkan sebuah prinsip yang sering kali kita lupakan, yaitu kepemimpinan selalu menghasilkan pengaruh. Disadari atau tidak, setiap sikap, keputusan, dan respons seorang pemimpin akan menjadi semacam pola yang direplikasi orang-orang sekitarnya. Dimulai dari tim inti kepemimpinannya, kemudian menyebar hingga ke lapisan paling bawah. Sadarilah bahwa setiap tindakan kita sedang "mengajar" orang lain, baik ke arah yang benar maupun yang keliru. Ketika seorang pemimpin kompromi, orang lain belajar membenarkan kompromi. Ketika seorang pemimpin bersikap tidak adil, ketidakadilan akan menjadi sesuatu yang dianggap wajar di antara sesama rekan kerja. Sebaliknya, ketika seorang pemimpin hidup dalam kebenaran, integritas, dan kasih yang hangat, nilai-nilai itu akan menyebar tanpa perlu dipaksakan. Saat para penasihat raja mengatakan, "Karena kelakuan sang ratu itu akan merata kepada semua perempuan" (Est. 1:17a), ini menunjukkan bahwa keputusan dan tindak tanduk seseorang di posisi tertentu sangat dilihat dan ditiru. Apa yang kita lakukan bisa menjadi budaya bagi individu bahkan kelompok. Itu sebabnya, pemimpin dan orang-orang di posisi tertentu bukan hanya memikirkan "apa yang boleh saya lakukan" tetapi "apa yang akan ditiru dari saya". Karena itu, marilah kita menjalani hidup dengan kesadaran penuh. Jaga perkataan, sikap, dan keputusan kita karena kita tahu setiap hal kecil yang kita lakukan sedang membentuk dan mengajar orang lain. Ini bukan tentang menjadi pemimpin yang sempurna, dan justru karena ini tidak mudah, kita tidak perlu mencari cara yang luar biasa. Mulailah dengan memperjelas standar sebelum situasi menekan. Misal, tentukan dari awal apa yang tidak bisa Anda tolerir; entah itu kejujuran, keadilan, atau transparansi. Agar saat situasi mendesak, Anda tidak menjadi orang yang terombang-ambing tanpa pegangan, dan orang dapat melihat Anda sebagai orang yang "firm". Biasakan "injak rem" sebelum bereaksi atau memutuskan. Kita kadang tidak memiliki maksud jahat, kita hanya terlalu cepat merespons. Milikilah dua tiga orang yang Anda anggap bijaksana, paham hukum Tuhan, paham undang-undang sekitar, dan paham situasi zaman. [LS]